Hari libur menjadi alasan bagi saya untuk tidak bangun terlalu pagi. Terlebih jika saya sedang berhalangan shalat. Saya bisa bangun setengah 6 hihihi (jangan ditiru ya ✌) bahkan lebih (nah lho 😅). Eh tapi, karena wajah anak-anak terlalu kuat membayangi mimpi saya, jadi saya langsung cepat bangun. Saya harus menyiapkan sarapan. Meskipun hanya menggoreng tempe atau telur. Setidaknya ketika mereka lapar ada yang bisa mereka nikmati. Setelah itu? Dengan gerakan lamban (maksudnya malasss 😁) melakukan aktifitas lainnya.
Dannn, ketika itu di minggu pagi, bahkan adzan subuh belum berkumandang (pukul 4), Naura tiba-tiba membangunkan saya. Ternyata dia ngompol 😥. Begitulah Naura, kalau terlalu banyak minum meskipun sudah buang air kecil, maka besar kemungkinan pasti bisa ngompol. Saya juga lupa tidak menyuruhnya buang air kecil lagi. Waduh semakin banyak saja cucian baju kotornya. Apalagi sabtu kemarin absent.
Mata sungguh berat. Ingin bermanjaria bersama bantal dan selimut lagi. Tapi, apalah daya cucian kotor lebih kuat godaannya 😂. Setelah membersihkan jejak ompol Naura, saya pun bersiap ke lantai atas untuk ‘bertempur’. Dalam hati menggerutu, “Minggu kan seharusnya lebih santai. Ngantuuuk. Naura oh Naura. Duuuuh…!” Selesai mencuci, lalu saya membersihkan kamar mandi, menyiapkan sarapan, dan beberapa aktifitas lainnya. Sampai tiba waktunya saya pun bisa santai di kamar. Sambil membaringkan badan, dalam hati bergumam, “Ini yang dinamakan bermalas-malas kemudian. Untuk bisa menikmatinya memang harus ada yang dikorbankan. Ini juga yang dinamakan hikmah di balik ompol Naura. Pekerjaan cepat selesai karena bangun pagi. Tapi, ngga sering-sering juga ya ngompolnya Naura. Lebih baik ibu bangun pagi buta karena keberisikan alarm daripada karena Naura ngompol 😂”.