Jadi, kami sekeluarga masih tidur dalam 1 ranjang yang ukurannya sebenarnya sudah sangat mepet. Ditambah Naurania (naura dan rania) mulai beranjak besar, dan aksi tidurnya semakin ada-ada saja. Bahkan pernah membuat ayahnya nyaris terjatuh. Pernah juga posisinya tidak berubah, yaitu miring. Hihihi, saking terjepitnya. Dirayu supaya tidur terpisah nyatanya merengek tidak berani. Dan, ayahnya yang mengalah pindah kamar pun juga tidak diijinkan. Jadi, semuanya harus berkumpul. Seperti pepes. Hihihi…
Pada suatu pagi, seperti biasa saya yang bangun lebih dulu. Setelah saya menyelesaikan aktifitas di atas dan di dapur, saya pun masuk ke kamar untuk membangunkan suami. Sebelum saya mandi pagi, jadi suami harus shalat subuh dulu. Saya dibuat geleng-geleng kepala begitu melihat pemandangan yang menurut saya lucu. Jadi, Rania seperti mencari kehangatan dengan cara menempelkan tubuhnya pada tubuh ayahnya. Posisinya pun menggemaskan. Sepertinya, sebelum bertemu tubuh ayahnya dia berusaha menemukan tubuh saya. Sampai-sampai bergeser semakin jauh dari posisi sebelumnya dan akhirnya bertemu tubuh ayahnya. Akibatnya, suami pun tak rela melepas kedekatan itu. Tapi, karena harus shalat, jadi ya harus tega dan rela.
Ternyata, Rania masih terus bergerilya mencari kehangatan. Karena tubuh ayahnya digantikan dengan tumpukan bantal (supaya tidak jatuh), jadi rasanya kurang hangat. Rania pun guling sana-sini. Dan, bertemulah dengan tubuh kakaknya. Nyempil. Ya, Rania menyelipkan tangannya di bawah tubuh Naura. Hahahaha… Dan sekarang pemandangan seperti itu hampir setiap pagi saya temui.
Mungkin ini juga yang menjadi alasan mereka masih enggan pisah kamar. Kehangatan tubuh ayah ibunya yang sulit digantikan oleh selimut sekalipun. Ya, mereka paling tidak betah memakai selimut. Hanya awalnya saja begitu antusias memakainya. Tapi, cepat sekali bosan dan menolak memakainya.
Apakah anak-anak parents sama demikian? Ngga usah merasa risih, ya. Karena belum tentu saat mereka sudah besar mau nempel-nempel. Bahkan bisa jadi malu.
Hehehe…