Cerita tentang corona

Inilah kekuasaan Allah. Dalam sekejap semuanya berubah mengikuti skenarionya. Roda tidak hanya berputar, tapi dipaksa menjadi datar. Keadaan seperti tiarap. Nyaris semua berada di posisi sama. Bukan hanya golongan A, B, atau C saja. Siapapun harus bersikap waspada.

Sebagai orang awam akan ilmu virus, tentu nama corona sangat asing di telinga saya. Ternyata setelah membaca dan melihat informasi dari sana-sini, jenis corona itu beragam. Dan, di 2020 ini manusia di seluruh dunia sedang berdampingan dengan corona jenis covid-19.

Banyak pola kehidupan yang berubah drastis. Mulai dari orang dewasa yang diharuskan bekerja dari rumah (wfh), anak sekolah belajar dari rumah (sfh), pemakaian masker, dan tidak diharuskan keluar rumah jika tidak dalam kondisi terpaksa.

Manusia sedang berperang, tapi tidak satu pun yang mengetahui posisi lawan. Maka, sebagai antisipasti diwajibkan untuk menjaga jarak kurang lebih 1 meter. Droplet (air percikan akibat batuk, flu, dan sebagainya) disinyalir menjadi pemicu virus itu mudah menyebar.

Sungguh, soal kebiasaan mencuci tangan sebenarnya kan bukan hal asing lagi. Tapi, karena wabah ini, kebiasan itu semakin ditekankan. Setelah bepergian karena ada keperluan, harus semprot sana-sini sebelum masuk rumah. Aroma disinfektan atau handsanitizer lama-kelamaan menjadi akrab. Alhamdulillah-nya, masalah masker bisa diselesaikan setelah masker kain terus dipromokan guna menyaingin kepopuleran masker sekali pakai yang pada saat awal pandemi harganya ngga masuk akal.

Nak, ini kelak akan menjadi cerita untuk penerus keluarga kita dan semua orang. Bahwa di tahun 2020 ini kehidupan memiliki pola baru. Dimana masker menjadi fashion dan handsanitizer menjadi teman akrab, kalian lebih sering di rumah, sekolah pun berganti istilah BDR (belajar dari rumah) dan entah sampai kapan.

Ada yang mengatakan bahwa para medis adalah garda terdepan. Tapi, justru masyarakat yang juga menjadi bagian dari garda terdepan itu. Karena, masyarakat yang menentukan apakah akan semakin banyak korban wabah atau tidak. Jika semakin banyak yang tidak patuh protokol, maka akan semakin banyak yang ‘singgah’ ke RS. Alhasil, para medis juga lah yang harus berjuang lebih. Ingat, para medis pun sudah banyak yang berguguran.

Nak, kejadian ini juga mengajarkan kita untuk lebih sering saling berbagi. Imbas dari pandemi ini adalah pekerja banyak yang di PHK. Banyak juga yang berusaha bangkit dengan menjadi pedagang. Tapi, tak jarang juga yang masih berharap bekerja di kantoran. Menunggu panggilan interview dan dalam penantian yang tak tentu.

Nak, entah kapan pandemi ini akan usai. Yang pasti banyak doa yang sudah dikirimkan kepadaNya agar lekas diangkat wabah ini.

Inilah kekuasaan Allah. Dalam sekejap semuanya berubah mengikuti skenarionya. Roda tidak hanya berputar, tapi dipaksa menjadi datar. Keadaan seperti tiarap. Nyaris semua berada di posisi sama. Bukan hanya golongan A, B, atau C saja. Siapapun harus bersikap waspada.

Sebagai orang awam akan ilmu virus, tentu nama corona sangat asing di telinga saya. Ternyata setelah membaca dan melihat informasi dari sana-sini, jenis corona itu beragam. Dan, di 2020 ini manusia di seluruh dunia sedang berdampingan dengan corona jenis covid-19.

Banyak pola kehidupan yang berubah drastis. Mulai dari orang dewasa yang diharuskan bekerja dari rumah (wfh), anak sekolah belajar dari rumah (sfh), pemakaian masker, dan tidak diharuskan keluar rumah jika tidak dalam kondisi terpaksa.

Manusia sedang berperang, tapi tidak satu pun yang mengetahui posisi lawan. Maka, sebagai antisipasti diwajibkan untuk menjaga jarak kurang lebih 1 meter. Droplet (air percikan akibat batuk, flu, dan sebagainya) disinyalir menjadi pemicu virus itu mudah menyebar.

Sungguh, soal kebiasaan mencuci tangan sebenarnya kan bukan hal asing lagi. Tapi, karena wabah ini, kebiasan itu semakin ditekankan. Setelah bepergian karena ada keperluan, harus semprot sana-sini sebelum masuk rumah. Aroma disinfektan atau handsanitizer lama-kelamaan menjadi akrab. Alhamdulillah-nya, masalah masker bisa diselesaikan setelah masker kain terus dipromokan guna menyaingin kepopuleran masker sekali pakai yang pada saat awal pandemi harganya ngga masuk akal.

Nak, ini kelak akan menjadi cerita untuk penerus keluarga kita dan semua orang. Bahwa di tahun 2020 ini kehidupan memiliki pola baru. Dimana masker menjadi fashion dan handsanitizer menjadi teman akrab, kalian lebih sering di rumah, sekolah pun berganti istilah BDR (belajar dari rumah) dan entah sampai kapan.

Ada yang mengatakan bahwa para medis adalah garda terdepan. Tapi, justru masyarakat yang juga menjadi bagian dari garda terdepan itu. Karena, masyarakat yang menentukan apakah akan semakin banyak korban wabah atau tidak. Jika semakin banyak yang tidak patuh protokol, maka akan semakin banyak yang ‘singgah’ ke RS. Alhasil, para medis juga lah yang harus berjuang lebih. Ingat, para medis pun sudah banyak yang berguguran.

Nak, kejadian ini juga mengajarkan kita untuk lebih sering saling berbagi. Imbas dari pandemi ini adalah pekerja banyak yang di PHK. Banyak juga yang berusaha bangkit dengan menjadi pedagang. Tapi, tak jarang juga yang masih berharap bekerja di kantoran. Menunggu panggilan interview dan dalam penantian yang tak tentu.

Nak, entah kapan pandemi ini akan usai. Yang pasti banyak doa yang sudah dikirimkan kepadaNya agar lekas diangkat wabah ini.