Sesuai urutannya, angka 2 disebutkan setelah angka 1. Saya beranggapan bahwa angka 2 seperti bayangan angka 1. Bahkan bisa menggeser posisi angka 1. Jadi, angka atau urutan sekedar sebagai penyebutan. Tapi, kenyataannya berbeda.
Eits, ini tidak ada hubungannya dengan perpartaian ya. Singkirkan jauh-jauh dari pikiran itu ketika membaca tulisan ini 👍.
***
Tentu pernah kan menyaksikan kompetisi yang ada di TV? Ambil contoh pencarian bakat menyanyi. Ketenaran juara 2 menurut saya jauh berada di atas juara 1. Hal itu jika dilihat secara on air (tampil di tv dan media lainnya). Entah jika secara off air (acara yang tidak diliput). Bisa jadi juara 1nya sebagai rajanya. Hanya saja, masyarakat memiliki patokan sendiri dalam menilai ketenaran seseorang. Salah satunya sering tampil di TV. Nah, opini oun bermunculan. Ya sudahlah ya, itukan sebenarnya sekedar ketenaran yang berbeda tempat saja.
***
Kembali membahas angka 2. Adalah mengenai anak ke 1. Sebelum lahirnya anak ke 2, anak ke 1 bak raja/ratu. Sebagai orangtua berusaha memberikan apa saja yang diinginkan. Berusaha hadir ketika dibutuhkan.
Lalu, hadirlah anak ke 2. Apa yang terjadi? Pasti kondisi berubah. Ketika anak ke 1 meminta sesuatu khas dengan rengekannya, dan momentnya bersamaan saat ibu sedang meninabobokan anak ke 2. Tanpa disadari anak ke 1 dipaksa mengerti bahwa dia harus belajar mengenai kondisi. Diharuskan menunggu. Bahkan saking lamanya, si anak sampai lupa sendiri. Atau bahkan sampai ketiduran 🙁.
Saat anak ke 2 rewel, dan ibu sedang disibukkan dengan aktifitas tumis-menumis, bukannya lekas beranjak tapi malah mengandalkan anak ke 1. Padahal dia sedang asik dengan mainannya. Disitulah tanpa disadari me-time-nya sedang diganggu.
Saat sedang jalan-jalan, anak ke 1 mengeluh capek dan minta digendong. Ternyata responnya di luar harapan. “Kamu sudah besar. Nggak malu sama adik?”.
Mengenai prioritas ternyata sudah banyak yang bergeser. Permintaan, sikap dan lainnya yang tidak sesuai dengan prediksi nyatanya malah membuat ibu uring-uringan ngga jelas. Benar ngga? Atau hanya saya saja yang mengalaminya? 😥 (sampai hari ini saya pun terus belajar untuk berlaku adil terhadap anak-anak).
Si kakak dituntut mengalah, dan mengerti. Padahal belum siap ia lakukan secara mental. Dirinya pun masih membutuhkan kasih sayang penuh. Bahkan, menurut saya jauh lebih besar dibandingkan adiknya. Jangan sampai kecemburuan yang muncul sejak kecil tiba-tiba meledak dikala besar nanti. Karena si adik bayi atau batita masih bisa dialihkan perhatiannya, mungkin alangkah lebih baiknya jika kakak tetap menjadi prioritas. Selain perasaanya tetap terjaga, pun kasih sayangnya juga akan muncul untuk si adik jauh lebih besar.
Coba, deh dipikir-pikir lagi. Karena anak ke 1 lah sebagai orangtua banyak ilmu yang didapatkan. Bukannya kehadirannya dulu begitu dinantikan. Masa cuma karena sosok saudara sedarahnya malah membuatnya merasa diduakan.
Berbagi peran. Itu bisa menjadi satu dari sekian solusi yang pasti ada. Seperti: ayahnya yang membantu menjaga adik ketika ibu sedang bersama kakak. Atau ketika ibu sedang sibuk dengan adik, ayah bisa membantu ibu menyuapi makan.
Duh, seandainya ilmu berbagi ini dimiliki sedari dulu. Ahh… Seandainya seandainya. Menyesal pun tiada guna.
#Day11