Bangun tidur ku terus mandi (Bacanya sambil nyanyi 😁)…..
Tapi tidak bagi saya.
Bangun tidur ku cari kacamata. Dicari-cari ternyata tidak ada (Sambil nyanyi juga ya 🤓).
Kurang lebih begitu aktifitas saya begitu membuka mata. Selesai berdoa bangun tidur, kemudian tangan sibuk mencari kesana-kemari si kacamata. Awalnya diletakkan di atas kepala atau kadang juga di bawah bantal. Tapi, entah bagaimana ceritanya si kacamata bisa berubah tempat. Setelah klimpungan mencari, eh ternyata tertindih badan Rania. Hampir 5 menit waktu dihabiskan untuk mencari benda penting itu.
Pernah juga jatuh di kolong dan sampai lepas lensanya. Kejadian pertama si lensa masih berhasil ditemukan. Begitu kejadian lagi, lensa keduanya hilang dan hanya 1 yang berhasil ditemukan. Kemudian membeli kacamata baru. Dannn, setelah mendapatkan penggantinya, si lensa yang tadinya susah ditemukan ternyata ada di kolong kasur pinggir tembok. Duh, dipikir-pikir padahal posisinya tidak jauh dari letak lensa yang sebelumnya telah ditemukan.
Itu baru cerita lensa. Belum lagi saat tangkainya patah karena Naura iseng. Dan begitu Rania lahir pun ternyata berlaku sama 😂. Apakah semenarik itukah kacamata sampai anak-anak tertarik untuk mencoba mematahkannya?
Kenapa ngga pakai contact lens? Saya takut. Takut lupa, takut ketiduran, dan takut memakainya.
***
Lika-liku berkacamata memberikan cerita penuh intrik (hayaaa bak sinetron 😂). Jadi, awalnya saya tidak menyadari bahwa mata saya minus.
“TV kenapa ngga diservice, sih? Kan jadi ngga jelas nontonnya”.
Komentar pedas itu keluar hampir sebulan lebih. Saya pun semakin ketus menyalahkan TV yang tak tahu-menahu. Hingga suatu hari, iseng-iseng mencoba kacamata yang tergeletak di meja. Wooow!!! Merasa ajaib karena ketika melihat kearah TV langsung berubah jelas.
“Wah, berarti kacamatanya ajaib, ya?” Hahahaha…tidak! Itukan artinya selama ini mata saya yang salah.
Mau tidak mau saya harus membeli kacamata. Lama-lama jika dibiarkan aktifitas saya pun terganggu. Ditambah kala itu saya masih bekerja. Pulang pergi naik kendaraan umum. Tidak mungkin kan saya mengandalkan mata orang lain.
Masalah datang ketika memilih model kacamata. Ok, akhirnya beli dengan model yang menurut saya trendy. Nyatanya model yang saya pilih ketinggalan jaman. Kala itu musim dengan bingkai yang berwarna dan berbahan plastik. Hah! Saya pun bersabar untuk tidak menggantinya sampai rusak. Karena toh ternyata kacamatanya masih nyaman. Ngga mungkin kan gaji bablas hanya demi memenuhi hasrat model kacamata.
Saya pun flashback ke jaman SMA dulu. Saat itu saya berhasrat untuk memakai kacamata. Menurut saya keren. Terlihat pintar. Ya, pada saat itu. Tapi, percayalah, bahwa hidup dengan mata sehat tanpa tak terlihat keren pun jauh lebih keren. Nonton film 3D pun tidak perlu memakai 2 kacamata. Bisa kan membayangkannya? Hmmm…, bagaimana? Ribet kan? Sudah memakai kacamata minus dan harus memakai kacamata 3D. Duuuhhhh… 🤓.
Sipit, belo’ pun tak jadi soal. Karena sungguh, apapun jenisnya, selama tak berkacamata, hidupmu terasa indah. Maka nikmatilah wahai mata-mata yang masih sehat. Ngga perlu bergaya memakai kacamata minus padahal mata masih sehat. Belum lagi derita ketika kacamata berembun, kotor karena terkena jejak tangan, dan ketika uang tipis tapi harus ganti kacamata karena minus bertambah 😥.
🕶
#Day12