Pernah suatu hari saya berkunjung ke rumah sepupu. Ini kali kedua saya berkunjung ke rumahnya. Saat pertama berkunjung ke rumahnya, seluruh dindingnya masih mulus. Ibarat wajah, masih mulus tanpa ada jerawat. Bahkan tahi lalat sekalipun.
Saat kunjungan kedua, ternyata kondisinya sudah berubah 180°. Dalam hati saya berkata, “Duh ini rumah kok berantakan banget. Banyak coret-coret. Ngga dimarahin emang anaknya? Atau disediain kertas gitu.”
Ternyata hal itu sekarang saya rasakan sendiri setelah saya memiliki rumah dan anak-anak yang kreatifnya tak terduga.
Impian memiliki rumah dengan tembok bersih masih dalam angan.
Selama Naurania (naura dan rania) dalam masa bertumbuhan dan penuh imajinasi, maka saya dan suami sepakat untuk tidak mengecat rumah. Ketika beberapa tetangga mengecat rumahnya yang telah kusam, saya hanya bisa menahan diri untuk tetap bersabar menahan puluhan keinginan. Refrensi berseliweran di IG seperti terus melambai-lambai (lebay ya hihihi).
Jika ditanya “emangnya ngga disediain kertas?”. Kertas ada. Bahkan suami sengaja membelikan dalam jumlah banyak. Tapi, mereka tetap tertarik pada tembok. Hanya pada awalnya saja duduk manis menghadap kertas. Kemudian, begitu dilihat lagi sudah berdiri di depan tembok yang masih sedikit coretannya atau pada bagian belum tersentuh sama sekali. “Dimarahin?”. Enggak. Tadinya akan begitu. Tapi, kemudian kami berpikir ulang. Ini kan rumah mereka sendiri. Rumah yang menjadi tempat ternyaman untuk mereka bermain. Masa kecil mereka tidak akan terulang lagi.
Dari situlah kemudian saya menyimpulkan, mungkin juga ini yang terjadi pada sepupu saya. Dia sengaja tidak mengecat ulang rumahnya sampai anak-anaknya bosan dengan tembok. Ya, mungkin.
Memiliki anak kecil memang harus banyak menaruh kata maklum. Rumah berantakan? Tembok penuh coretan? kasur awut-awutan? Mainan berserakan? Dipikir ulang lagi jika sampai tega memarahi. Dipikir ulang lagi jika memaksa anak diam hanya demi melihat rumah terlihat sedap dipandang. Mungkin anak bisa diam, padahal ada hal penting yang telah dikorbankan. Adalah masa tumbuh kembang anak. Siapa yang tahu jika ternyata Allah memiliki rencana untuk menjadikan mereka pelukis besar. Aamiin… 🏡
Kalaupun terpaksa diberi teguran, tawarkan saja sebuah pilihan. Ya, itung-itung sambil belajar negosiasi.
#Day10