Sejak kecil, saya diajarkan bahkan diharuskan menjadi pembicara terbaik. Sampai-sampai saya melupakan bahwa saya juga harus belajar menjadi pendengar terbaik. Itu jauh lebih sulit. Karena, akan muncul bosan yang dalam hitungan detik membuyarkan konsentrasi sebagai pendengar.
***
Pernah ngga, sih waktu lagi ngomong entah itu sama teman, pasangan, atau orangtua merasa diacuhkan? Atau, lawan bicaranya lebih asik dengan hp atau mungkin mainan lainnya? Seolah-olah mendengarkan padahal mata enggan menatap, dan pikiran melalang buana.
Jujur, kalau saya sih langsung keluar ‘tanduk’ dan tenggorokan seperti ada batu yang mengganjal. Alias gondok bangettttt! Lebih gondok lagi kalau ternyata lawan bicaranya ngga sadar bahwa kita kesal. 😂😂😂
Apakah pernah terpikir jika hal semacam itu terjadi pada anak kita? Kita bersikap acuh atau malas memandang dan pura-pura mendengarkan. Sementara si anak begitu antusias bercerita.
Tahukah ayah bunda, betapa senangnya mereka ketika sebagai lawan bicaranya kita selalu mendengarkan dengan baik apapun yang keluar dari mulutnya? Tahukah ayah bunda, bahwa mungkin anak-anak secara diam-diam menumpuk kekesalan karena merasa sering diacuhkan?
Saya banyak belajar dari anak-anak. Saya belajar menjadi pendengar yang baik, dan penuh sabar. Dengarkan dan tatap matanya apapun yang dia ceritakan. Meskipun bahasa yang keluar dari mulutnya ada yang kurang dipahami. Hargai usahanya. Ikutlah tertawa. Ciptakan suasana bahwa kehadirannya memang berharga. Dengan begitu, akan muncul rasa percaya diri bahwa suaranya memang berharga.
Naurania (Naura dan Rania) selalu menceritakan ulang kartun yang baru saja ditontonnya. Pada saat itu pun kami sama-sama menyaksikan. Hanya saja, ketika mereka sedang bercerita, saya memposisikan seolah-olah saya tidak tahu ending ceritanya.
Sepulang sekolah dan mengaji, saya selalu bertanya siapa saja teman Naura yang masuk dan tidak masuk? Tadi main apa? Bisa ngga belajarnya? It’s simple. Tapi, tunjukkan bahwa ceritanya memang berharga.
Sebelum tidur pun, Rania selalu ngoceh. Tapi, saya berusaha merespon. Meski pada akhirnya saya tidur duluan (jarang kok, nak) hehehe…
Coba bayangkan jika kita sebagai orangtua sudah tua nanti. Betapa sedihnya jika kita tidak pernah diajak bicara, cerita kita tidak pernah didengar. Nelangsa, ya.
Itulah anak-anak. Membuat orangtua banyak belajar. 😘😘