Target Market

Masyarakat yang dengan mudahnya menyerap hasil iklan menurut saya ternyata adalah anak-anak. Baik itu iklan di tv ataupun di youtube. Sadar ataupun tidak, anak-anak cenderung meniru gaya iklan yang telah melekat di hatinya. Misal: sudah tahu kan iklan shoope versi terbaru yang menggaet BlackPink? Nah, tidak bisa dipungkiri Naurania (Naura dan Rania) otomatis lari ke depan tv sekedar untuk melihat iklannya sambil menggerak-gerakkan tubuh dan menyanyi. Meski tidak jelas kalimat apa yang diucapkan. Bukan hanya itu. Jika ada product entah itu shampoo, minyak wangi, mainan anak, dan makanan yang mereka kenal atau menurut mereka menarik, pasti langsung heboh nunjuk-nunjuk ke layar sambil manggil saya atau suami. Padahal, belum tentu target market brand tersebut adalah anak-anak. Bisa jadi male, female, male famale, atau jauh dari kata kids.
***
Nah, beberapa waktu lalu Rania dibuat antusias begitu melihat iklan produk brand ‘D’. Apapun itu jenisnya selama itu ‘D’ pasti akan membuatnya tertarik. Pernah suatu hari saya dan Naurania (Naura dan Rania) berkunjung ke rumah neneknya, ternyata di washtafel ada botol cairan pembersih ‘D’. Ingatannya langsung berjalan cepat bahwa yang dilihatnya itu adalah ‘D’. Padahal bendanya kecil dan nyaris tidak terlihat sepenuhnya karena tertutup botol lain.

Cerita lainnya: ketika saya sekeluarga berbelanja di supermarket, tiba-tiba tangannya mengambil sabun itu yang ternyata bisa dijangkaunya. Karena sabun mandi di rumah masih cukup, maka diam-diam sabun itu diletakkan lagi di rak oleh ayahnya. Dan sesampainya di rumah, siapa yang menduga bahwa Rania akan menanyakan keberadaan sabun cair itu. Dengan berbagai macam alasan saya berikan agar pertanyaan itu tak mencuat lagi. Ya, namanya juga anak-anak. Tentu ingatannya lebih jernih. Maka setiap melihat iklan sabun itu, selalu ditanyakan keberadaan sabunnya.

Waktu berlalu. Hingga datanglah hari dimana ayahnya akan melakukan perjalanan keluar kota. Ternyata di rumah tidak ada botol kecil untuk menampung sabun yang akan dibawanya. Meskipun di hotel disediakan sabun dll, tapi rasanya kurang lengkap isi peralatan mandi jika tidak membawa sabun sendiri. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli sabun cair idola Rania saja. Dan sisanya bisa dipakai Rania begitu ayah pulang. Sekaligus menebus rasa bersalah untuk beberapa waktu lalu. Kami beranggapan itu adalah sabun keluarga. Jadi, tidak ada salahnya mencoba.

Belum sempat sabun itu masuk ke tas peralatan mandi, Rania sudah mengigau bahwa sabunnya tidak boleh dibawa. “Jangan dibawa sabunnya, yah.”

Akhirnya sabun dibiarkan berdiri di meja. Dan ayahnya pergi tanpa membawa sabun 😀.
***
Sempat beranggapan bahwa kehadiran sabun cair cukup membantu saya ketika Rania susah diajak mandi.

Begitu diberitahu ada sabun kesukaannya, langsung deh Rania gerak cepat ke kamar mandi. Saking senangnya, Naurania mandinya sampai lama karena gosok sana-sini.

Sekitar 2 hari sabun itu mereka pakai. Setelahnya terpaksa saya stop begitu menyadari tubuh Naura memerah. Mulai dari leher, dada, perut. Sementara Rania hanya sedikit dari bagian Naura. Dada sebelah kanan dan leher.

Kulit kemerahan itu lama-lama kering seperti bekas terbakar. Lalu, mengelupas.

Ada apa ini? Sebelum memutuskan berhenti memakainya, saya beranggapan bahwa itu mungkin efek cuaca panas. Atau mungkin juga alergi. Tapi, makanan yang saya berikan pada anak-anak tidak jauh-jauh dari menu tempe dan sayur sup. Dan selama ini baik-baik saja. Oke, satu-satunya barang baru yang menyentuh kulit mereka adalah sabun cair itu.

Disini saya tidak menyudutkan brand tersebut. Hanya, saya merasa keputusan untuk menebus rasa bersalah dengan cara membelinya ternyata salah.

Kulit balita dan batita memang alangkah lebih baiknya menggunakan produk yang khusus untuk usia mereka. Sekalipun untuk keluarga ternyata belum tentu cocok untuk anak-anak. Apalagi jika si anak memiliki riwayat kukit sensitif.

But, alhamdulillah kulit saya dan suami tidak bermasalah. Jadi, sabun tetap kami pakai sampai habis. Sementara Naurania kembali ke sabun anak-anak.

Mungkin nanti ketika kulit mereka sudah lebih kuat mereka bisa memakainya lagi. Ketika saya memaksa Rania berhenti memakai sabun itu, wajahnya kesal dan sedih. Sungguh sabun itu berkesan di hatinya.

Dan…. taraaaaa!
Muncullah ide dari suami. Begitu isi sabun itu habis, kemasan tetap dipakai. Hanya saja isinya diganti.

Maafkan kami, nak…
😂😂😂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *