Negeri di atas awan

 

Innalilahiwainnailaihi rojiun….

Senin pagi (29 okt ’18) lalu kita baru saja mendapatkan berita duka, yaitu jatuhnya pesawat Lion Air JT610 di perairan laut Karawang. Mengenai kejelasan penumpang dan kru pesawat belum jelas secara keseluruhan. Meskipun beberapa korban telah ditemukan jasadnya dan banyak yang dalam kondisi tidak utuh. Sementara itu, mengenai barang-barang milik korban pun juga sudah banyak ditemukan meskipun banyak yang dalam kondisi berantakan. Barang-barang itu mulai dari sepatu, tas, dompet, seragam pramugari dll. Dan belum lama juga telah ditemukan black box dan roda pesawat.

Begitulah jadoh, maut, dan rejeki hanya Allah yang maha mengetahui. Setelah menulis dan memposting blog ini pun belum tentu usia saya akan panjang hingga tahun depan. Semuanya penuh rahasia.
Kondisi meninggal tidak selalu ketika dalam usia tua. Bayi dalam kandungan pun jika Allah berkehendak kapanpun bisa meninggal.

Mereka yang ada di dalam pesawat itu masih memiliki harapan dan rencana. Ada yang akan menikah, mendapatkan pekerjaan baru, menantikan kehadiran anak pertama, dan baru saja bertemu kerabat. Begitu banyak kisah yang mereka tinggalkan. Air mata yang menanti kabarnya sudah tak terbendung, dan bahkan mungkin mengering tak mengalir lagi. Tapi, Allah si pemilik tubuh manusia jauh lebih dulu menuliskan cerita mereka dalam kisah abadi-Nya.

Jika sudah begini, muncul rasa takut untuk pergi. Padahal, jika memang sudah waktunya pergi, tubuh tak bisa sembunyi.

Ketika dalam diam malam menunggu terpejam, terbesit pikiran tentang kematian. Tempat mana yang nantinya akan saya diami. Surga atau neraka. Karena ketika sudah meninggal, bagi saya bukan pergi. Tapi, pulang ke rumah yang sesungguhnya. Dan, selama berada di dunia saya harus menabung tentang kebaikan sebanyak-banyaknya.
***

Jika ada pilihan lain yang lebih cepat atau sama-sama cepat seperti pesawat, ketika pulang ke kampung halaman maka saya akan lebih memilih pilihan lain itu. Mungkin suatu saat nanti akan ada kereta jet 😆 hihihi. Aamiin…

Saya takut ketinggian. Tapi, saya percaya di tempat lain juga ada manusia yang memiliki ketakutan seperti saya. Hanya saja kadarnya tentu berbeda-beda. Dan, bisa jadi saat naik pesawat justru tak merasakan apa-apa. Santai dan rileks.

Saya selalu dag dig dug ketika sampai di bandara. Bahkan masih dalam rencana kepergian pun rasa takut itu sudah datang seperti bayangan. Semakin mendekat ke arah pintu masuk pesawat pun perasaan saya bukannya mereda malah semakin tak karuan.

Tidak ada yang tahu apakah di ruang tungggu menjadi saat-saat terakhir saya berada di darat atau sebaliknya. Tidak ada yang tahu apakah perjumpaan saya dengan petugas bandara itu untuk yang terakhir kalinya atau sebaliknya.

Tiba saatnya take off, berbagai macam doa saya panjatkan. Terlebih saat berada di atas dan bertemu awan. Guncangan, getaran dan entah apapun itu namanya semakin membuat hati tak karuan. Makanya saya pun heran melihat suami yang bisa tidur dengan mudahnya. Kalau saya sampai bisa tidur, itu pun pasti dalam ketidaksengajaan atau dalam kondisi pasrah.

Jarak terjauh yang pernah saya kunjungi adalah ke Sulawesi Tenggara. Dan waktu yang harus saya tempuh kurang lebih 3 jam dengan perbedaan waktu 1 jam. Tapi, 3 jam berada di atas awan bagi saya seperti lebih dari 24 jam. Terlalu lama. Entah saya yang terlalu takut atau entah bagaimana. Berbeda dengan Naurania (Naura dan Rania) dan suami saya. Mereka terlihat santai dan bisa menikmati film yang ada di layar.

Meskipun pada pengalaman pertama saat Rania naik pesawat, sempat membuat kehebohan selama di perjalanan antara Jakarta ke Makasar. Ya, pesawat yang kami naiki memang harus transit dulu di Makasar selama kurang lebih 25-40 menit guna mengisi bahan bakar dan menurunkan sekaligus menjemput penumpang. Pada saat itu Rania menangis sejadi-jadinya. Mungkin sama seperti yang saya rasakan. Ketakutan. Tentu takut yang saya rasakan berbeda arti dengannya. Takut yang saya miliki adalah takut jika tiba-tiba begini, takut jika tiba-tiba begitu. Lelah sendiri. Sampai pada akhirnya saya pasrah. Pasrah jika dipaksa turun karena membuat kebisingan. Pasrah menjadi bahan pembicaraan, dan konsumsi mata karena sibuk menenangkan Rania yang tak kunjung diam, dan pasrah apapun yang terjadi atas kehendak-Nya. Tapi, nyatanya hal itu justru menjadi hal maklum dan biasa. Ya, tentu tidak mungkin juga kan hanya karena anak rewel, saya dan keluarga harus terjun bebas di tengah perjalanan.

Sampai-sampai saya lupa bahwa di luar jendela yang sengaja saya tutup ada pemandangan indah yang disuguhkan Tuhan. Sunrise. Indah ciptaan-Nya yang bersinar di pagi itu. Malu rasanya pada diri sendiri dan Naura. “Woww…, indahnya.” begitu kira-kira decak kagum yang pernah Naura ucapkan ketika memaksa membuka jendela. Diam-diam saya pun mengiyakan.

Indah. Kumpulan awan itu seperti kapas. Putih dan bersih. Matahari yang semakin memberanikan diri cahayanya berhasil menembus jendela. Silau. Saya bernegosiasi agar jendela ditutup lagi. Dengan alasan agar Naura bisa menikmati filmnya tanpa silau. Padahal, di balik itu semua ada sebab yang jauh lebih besar. Ya, ketakutan saya.

Oh, Tuhan. Jangan sampai hanya karena sibuk memikirkan hal yang belum tentu terjadi, rasa takut itu semakin merajai pikiran dan membuat kita tidak bisa berfikir positif dan sulit berkembang. Manusia sudah memiliki garis hidup masing-masing. Jika memang belum waktunya meninggal, sekalipun itu jatuh dari lantai 7, maka nafas akan tetap ada. Mata akan tetap terbuka, dan akan ada perjumpaan selanjutnya.

Manusia tidak pernah salah jika memikirkan kematian. Tapi, akan semakin bodoh jika terperangkap dalam kecemasan yang didatangkanya sendiri.

Nikmatilah hidup 😇
Selamat beraktifitas ☺

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *