Akhir-akhir ini sedang ramai berita mengenai penculikan terhadap anak-anak oleh mereka yang sengaja masuk ke lingkungan penduduk dan menyamar dengan berbagai macam profesi. Tapi, sayangnya di balik ramainya berita tersebut masih ada secuil atau bahkan mungkin banyak yang memberikan berita hoax. Yaitu, sengaja menggabungkan informasi dari A dan B. Jadi, ceritanya semakin dramatis. Saya, sebagai ibu pun semakin parno. Dan efeknya, saya pun menjadi posesif terhadap anak-anak.
Padahal, di masa tumbuh kembang mereka saat ini, bermain di luar rumah dengan aman dan nyaman menjadi modal utama. Sebenarnya sih, ya, jauh sebelum kasus penculikan ini ramai, saya bisa dikatakan sebagai ibu yang protektif. Kemana-mana ngga boleh jauh-jauh, ngga boleh main sendirian, dan mengaji pun dulu sampai saya tungguin. Tapi, seiring waktu dan pertumbuhannya yang perlahan muncul keberanian, saya pun mulai ‘tarik ulur’. Saya melepas pelan-pelan pengawalan. Tapi, pengawasan tetap menjadi yang pertama. Sayangnya, gara-gara berita penculikan itu, saya pun jadi ketakutan sendiri dan berfikir yang aneh-aneh lagi bahkan lebih dari yang dulu. Masa iya waktu 24 jam saya terfokus hanya untuk anak-anak. Sementara kebutuhan suami dan rumah yang harus saya urus pun tidak boleh lalai begitu saja. Tapi, jika kembali lagi ke masalah penculik, rasanya saya ngga sanggup dan berani jauh-jauh dari anak-anak.
Ada bekal utama yang perlahan saya tanamkan untuk Naurania dalam menghadapi dunia luar yang menurut saya semakin kejam dan menakutkan. Jujur saja, anak-anak saya beritahu mengenai apa itu penculik. Jadi, ketika ada step ilmu yang akan saya jelaskan, Naurania mengerti. Hanya saja, bahasa yang saya gunakan menggunakan takaran usianya. Jadi, biar ngga bingung.
Naurania harus tahu, bahwa mereka harus bersikap reaktif terhadap orang ‘baru’ yang mereka temui, terlebih jika diberi sesuatu. Entah itu permen atau makanan menarik lainnya. Selama tidak ada saya atau ayah di sampingnya, mereka wajib lari ke tempat lain entah itu bersembunyi atau menemui orang yang mereka kenal jika tiba-tiba diajak pergi.
Bukan hanya itu, ilmu lain yang pernah saya turunkan adalah, tidak ada orang lain selain anggota keluarga (ayah, ibu, mbah, om, tante) yang boleh memegang daerah sensitif mereka (kecuali dokter, ya 😆). “kalo bukan keluarga?” saya tahu pasti anak-anak akan meluncurkan pertanyaan yang mengejutkan. “ngga boleh. Kalo ada yang mau megang, kamu harus teriak. Jangan!”
Dan, semua itu hampir selalu saya ulang setiap kali mereka akan berada jauh dari saya dalam waktu beberapa jam. Saya tahu pasti mereka jengah. Tapi, demi keamanan dan perlindungan diri mereka, saya ngga peduli dibilang posesif ataupun protektif.
Semua itu pun tidak bisa lepas dari kerjasama yang baik antara anggota keluarga dan lingkungan. Baik tetangga maupun petugas keamanan. Semuanya harus bersinergi.