Negosiasi

“Tadi bapak lupa ngga kasih uang. Jadi, kita makan aja, ya?” Perempuan itu berlutut sambil membujuk anak perempuan yang berdiri di hadapannya. Kira-kira usianya 4 tahun. Saya yakin bahwa dia adalah anaknya.

Sayup-sayup saya mendengar percakapan mereka yang masih berada di dekat balkon lantai 2. Mata si anak yang rambutnya dikuncir satu itu masih tertuju ke arena permainan di lantai dasar. Sepertinya si anak merengek agar diperbolehkan bermain di tempat permainan. Hanya saja ibunya terkendala masalah uang yang tidak cukup.

Mall yang menurut saya besar di kota Bekasi ini sedang membuka play ground di lantai dasar. Di lantai itu bertebaran bola-bola plastik kecil. Bukan hanya itu, juga tersedia wahana permainan seluncuran, jembatan gantung mini, dapat juga merasakan sensasi berada di dalam balon plastik, dan beberapa permainan lainnya. Play ground tersebut menurut saya aman untuk anak-anak. Untuk masuk wahananya dipungut biaya kurang lebih 80 ribu rupiah. Biaya masuk untuk pendamping pun berbeda. Tentunya lebih murah. Selain itu juga harus memakai kaos kaki.

Negosiasi itu saya perhatikan cukup lama dan alot. Bahkan sampai saya beranjak pun mereka masih berada di tempat yang sama.

Negosiasi? Saya masih teramat sulit mencapai keberhasilan dalam hal negosiasi dengan anak-anak. Terutama si kecil. Jika sedang asik bermain di luar rumah lalu saya menyuruhnya pulang, saya bisa sampai mengelus dada saking menahan emosi melihat penolakannya berkali-kali. Padahal dia sudah bermain terlalu lama. Bukan hanya itu. Ketika sedang manja kemudian saya menyuruhnya membuang sampah plastik pembungkus cemilannya, bisa sampai beradu mata dia tetap tidak mau. Bahkan dia memilih pergi. 😥

Dan, negosiasi alot lainnya adalah mengenai penggunaan gadget. Beberapa kali peraturannya saya rubah seiring pertumbuhan mereka. Dan, konsekuensinya adalah saya harus melakukan negosiasi. Menjelaskan kenapa yang biasanya di hari itu boleh kemudian berubah menjadi tidak boleh. Soal mencuci tangan sebelum makan pun bisa sampai perang dingin dengan si kecil. Awalnya dia berkeinginan untuk makan, lalu saya menyuruhnya mencuci tangan. Niat itu pun bisa urung hanya karena malas bergerak menuju dapur, dan memilih disuapi atau tidak makan. Ya Allah, negosiasi alot pun terjadi. Hasilnya apa? Dia berhasil tidak mencuci tangan dan saya pun menyuapinya. Saya pikir daripada dia tidak makan dan kelaparan.

Negosiasi bagi saya itu perlu. Meskipun mereka masih anak-anak. Bagi saya, dengan cara negosiasi akan terjalin komunikasi mendalam antara saya dengannya. Apapun itu hasil negosiasinya. Dengan adanya negosiasi, mereka akan belajar terbuka dengan orangtua. Dan, saya pun berharap ketika dewasa nanti akan ada hasil positif yang dipetik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *