Pagi cepatlah datang

Malam itu tidak seperti biasanya. Padahal cuaca sedang tidak panas. Ditambah hujan pun beberapa saat sempat turun. Tapi, suhu di kamar nyatanya malah membuat saya dan Naurania (Naura dan Rania) mandi keringat. Masalahnya sebenarnya terletak pada AC. Ya, saya menyadari AC bermasalah sejak siang. Tapi, saya berharap banyak semoga ketika malam tiba suhu bisa berubah. Karena kan matahari tidak mengambil peran. Nyatanya, justru sama saja. Akhirnya kipas angin pun diperbantukan. Pintu kamar pun dibuka. Rania rewel. Dia merasa tidak nyaman. Sementara, Naura saya paksakan agar tetap bisa tidur. Karena esoknya dia harus sekolah. Meskipun beberapa kali terlihat gelisah karena tidak nyaman juga. Berbagai penjelasan pun saya berikan.

Memakai kipas angin pun nyatanya bukan solusi. Mareka tetap kepanasan. Karena saya khawatir mereka masuk angin, makanya arah anginnya sengaja saya pantulkan ke sudut lain. Mungkin itu penyebabnya juga. Hihihi…

Dipikir-pikir, dulu saat saya masih kecil malah tidak memakai AC atau pun kipas angin saat tidur. Alhamdulillah nyenyak saja tidurnya. Bahkan sampai memakai kelambu. Sampai sekarang pun kipas angin yang ada di rumah ibu saya hanya tergeletak begitu saja jika cucu-cucunya tidak datang.

Sebenarnya Naura pun pernah merasakan hanya menggunakan kipas angin sampai usia 2 tahun. Alhamdulillah dia mampu bertahan dengan segala macam suhu. Meskipun kala itu kulitnya yang sensitif harus dirawat ekstra. Sampai akhirnya begitu Rania lahir, barulah kami membeli AC. Apakah beda jaman berbeda pula kualitas ketahan tubuh manusia? Atau karena memang dasarnya anak-anak ini sudah terlalu sering terpapar suhu dingin ketika tidur? Jadi, saat tidur suhunya berbeda maka masalah seperti menumpuk.

Saya sampai sering terjaga. Karena ketika Rania rewel saya harus bangun dan mengatur ulang posisi kipas. Bahkan saya gunakan kipas tangan juga supaya ampuh dan keringat lekas menyingkir. Jika saya terus-terusan terjaga dan kurang tidur, khawatir besok kesiangan. Akhirnya saya paksakan tidur saja meskipun Rania terusik. Hanya saya usap punggungnya. Tapi, mata saya tetap terpejam. Dan benar saja, tak berapa lama dia tidur lagi. Sungguh, malam itu terasa panjang. Ingin rasanya pagi cepat datang agar AC itu segera diperbaiki oleh tukang service langganan. Dugaan saya dan suami bahwa ada masalah dengan preonnya.

Terbayangkan bagaimana jika terjadi mati lampu sampai berhari-hari? Saya jadi ibu kipas kanan-kiri. Tapi, perubahan memang harus dihadapi. Sekarang jamannya sudah berbeda. Teknologi canggih banyak menyuguhkan kenyamanan. Bisa jadi, nanti kampung tempat tinggal ibu saya pun banyak yang memakai AC.

Saya harus membuat anak-anak tetap kuat dan menerima bagaimana pun kondisi yang ada ketika malam tiba. Entah itu mati lampu, AC rusak atau malah terpaksa pindah tidur di lantai sekalipun. Anak-anak boleh menerima kondisi nyaman, tapi tetap harus bisa menjalani ketika kondisi berubah dari yang nyaman ke kondisi memprihatinkan.

Apakah ada yang sama seperti saya moms ketika AC bermasalah? Hehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *