Cinta pandangan pertama

Bahwa melahirkan bukan hanya tentang normal atau sesar. Ini tentang perjuangan ibu. Nyawa taruhannya. Ada beberapa yang beranggapan “mendingkan karena situ sesar”, “untung lho saya lahiran normal”. Tidak! Jika sudah masuk ke ruang bersalin atau ruang operasi, perbandingan itu sudah tak ada artinya lagi. Tujuan satu-satunya adalah melihat anak lahir selamat dan ibu pun sehat.

Hamil pun bukan perkara mudah. Mulai dari mual, susah bergerak lantaran perut semakin membesar, nafas ngos-ngosan, tidur mulai tak nyaman, dan seringnya ke kamar mandi karena harus buang air kecil. Hanya itu? Tidak! Tentu setiap ibu memiliki cerita yang berbeda. Tapi, kurang lebih hampir sama gambaran yang di atas.

***

Masih teringat jelas bagaimana ketika Dokter mengatakan bahwa dalam tubuh saya ada kista. Jadi, calon anak saya harus tumbuh berdampingan dengan kista. Kista yang pada mulanya hanya tumbuh 3cm. Tapi, semakin hari malah semakin membesar. Dokter pertama menyarankan agar kista itu dikeluarkan ketika kehamilan masuk pada week 17. Jadi, Dokter meyakini bahwa pada kehamilan itu janin sudah tumbuh lebih kuat. Lalu, apa yang saya dan suami lakukan? Saya menghindar dan memilih Dokter lain. Dokter yang tentu membuat saya nyaman. Atau paling tidak memberikan alternatif lain selain membedah perut saya untuk mengeluarkan kista sementara saya sedang mengandung. Mungkin di tempat lain ada yang berhasil. Tapi, saya tidak sanggup membayangkan kondisi itu. Lebih baik saya mencari pilihan lain.

Alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengan Dokter yang hadir seperti guru dan bapak untuk pasiennya. Dokter yang tidak memberikan “cerita kemungkinan” yang memang belum terjadi. Dokter itu bernama Dokter Basuki. Sayangnya beberapa bulan setelah anak kedua saya lahir, beliau resmi pensiun dengan berbagai macam pertimbangan. Kembali ke cerita saya tadi ya 😄…, jadi saya dirujuk ke rumah sakit yang memiliki Dokter kusus penyakit dalam yang lebih berpengalaman.

Saya takut. Takut apa? Takut diperiksa bagian dalam. Tapi, ternyata itu hanya kekhawatiran yang saya ciptakan sendiri. Karena, ternyata tidak. Dokter hanya memeriksa perut luar saya. Dengan peralatan yang memadai jadi cukup ditempelkan saja (sama seperti ketika sedang USG). Ada beberapa layar yang terpampang di hadapan saya. Sambil berbaring, saya bisa melihat bentuk tubuh calon anak pertama saya, dan mendengar detak jantungnya. Saya takjub. Masya-allah. Sebegitu canggihnya alat dan dengan ijin Allah semuanya dapat dijangkau.

Singkat cerita, ternyata saya tidak perlu melakukan pengangkatan kista di tengah kehamilan. Karena kistanya tidak ganas. Hanya saja bersifat lengket. Jadi, ketika melahirkan nanti harus dilakukan secara sesar. Semua keinginan saya memang dikabulkan Allah. Dipertemukan dengan Dokter yang nyaman dan berpikir positif. Dokter Basuki memberikan sugesti bahwa insya-Allah saya bisa melahirkan secara normal. Segala sesuatunya harus diusahakan lebih dulu. Dan, hingga tiba pada saatnya melahirkan, ternyata semua berada di luar dugaan. Kepala si calon bayi terhalang kista. Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, bahwa kista itu semakin tumbuh besar. Bahkan lebih besar dari berat calon bayi. Pembukaan kala itu sudah sampai diangka 6. Tapi, karena ketuban sudah pecah, jadi kondisi menunggu tidak boleh terlalu lama. Keputusan pun harus segera diambil.

Tepat pukul 21:16 akhirnya anak pertama saya lahir melalui proses operasi sesar. Hanya saja saya tidak langsung menyusul keluar. Karena, masih ada kista yang harus diangkat. Dan, tepat pukul 1 dini hari saya resmi meninggalkan ruang operasi menuju kamar pasien. Kok lama banget? Iya, karena kistanya masya-Allah luar biasa besarnya. Adalah 5kg. Dan jika ditakar dalam ukuran liter yaitu sekitar 5 liter. Pantas saja perut saya subhanaallah besarnya. Dan ketika masih usia 8 bulan posisinya sudah sangat turun. Banyak yang berasumsi bahwa saya hamil sudah masuk usia 9 bulan. Maha besar Allah yang telah memudahkan segala aktifitas saya. Kala itu saya pulang pergi ke kantor naik kendaraan umum ketika suami tidak bisa mengantar dan jemput. Bahkan, terkadang bis yang akan saya naiki tak kunjung datang, jadi saya harus berdiri menunggu lama. Di tahun-tahun itu taksi online belum ada. Pun jika saya naik taksi, saya takut 😂.

Rindu rasanya ingin segera bertemu bayi mungil yang selama hampir 9 bulan selalu ikut kemana-mana (hihihi namanya juga hamil ya pasti bawa perut isi bayi kemana-mana 😅), yang ketika diusap langsung menggeliat, yang selalu didoakan setiap hari, yang selalu dinantikan kehadirannya oleh ayah dan ibunya.

Hanya saja baru esok hari saya dipertemukan. Itupun menjelang makan siang. Masya-Allah begitu pertemuan itu terjadi, rasa sakit bekas operasi hilang begitu saja. Saya mampu menepikannya. Wajah bayi itu ternyata lebih banyak mirip dengan saya (ya namanya juga ibunya hihihi 😆). Hanya saja saya belum terlalu berani menggendongnya. Memegangnya pun sambil dibantu. Sungguh, saya telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Bahkan jauh sebelum dia lahir ke dunia.

Dan, anak itu kami beri nama Naura. Yang artinya Bunga, bercahaya, cahaya. Karena kami percaya bahwa nama memiliki doa dibaliknya.

***

Nyatanya melahirkan tak ada bedanya kan? Bahkan ketika melahirkan secara normal pun harus menunggu pembukaan yang cukup. Diperiksanya pun rasanya luarrrr biasa. Jika tak kunjung bertambah maka dilakukan induksi atau bantuan lain. Masya-Allah, itu artinya perjuangan ibu sama besarnya dan tak layak bila harus dibanding-bandingkan.

Marilah kita hargai perjuangan ibu dan para calon ibu. Ibu kandung ataupun ibu sambung. Semuanya yang berlabel ibu nyatanya adalah pejuang di jalannya masing-masing untuk anak-anaknya.

#Day23

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *