Dibully itu menyakitkan. Meski tak terlihat lukanya, namun jejaknya tetap terasa. Weeeedeeeh… Tapi beneran lho saya ngga berlebihan.
Sudah bosan saya mendengar ucapan “badan kurus”, “seperti lidi”, “tepos”, dll. Yang awalnya membuat saya memendam sedih sampai pada akhirnya lama-lama kebal sendiri. Hanya saja dulu bully belum menjadi perhatian secara hukum. Jadi, merajalela seperti debu yang bertebangan kemana-mana. Jika mereka saya laporkan, kemungkinan besar bisa terjerat pasal. Bahkan bisa lebih dari 10 orang yang terjerat. Hihihi tapi tenang saya baik hati kok 😁 jadi berusaha saya maafkan (pamer banget ya maafin aja cerita-cerita 😆)
Sempat merasa bahwa saya salah dilahirkan. Makan banyak tapi ngga jadi daging. Badan tetap kurus langsing. Sampai punya angan-angan ketika sudah bekerja harus membeli susu yang menurut promonya sih bisa membuat badan yang tak berisi jadi berisi. Tapi, niat itu urung. Belum berangkat ke tokonya untuk membeli sudah down duluan. Tambah down lagi saat melihat perempuan yang memiliki badan berisi, dan seksi. Minder ngga ketulungan. Terpikir juga bahwa tidak akan ada laki-laki yang mau menikah dengan saya (dramatis banget ya) 😂.
“Jangan selalu melihat ke atas. Coba sekali-kali melihat ke bawah. Karena masih ada banyak hal yang akan membuat kamu banyak bersyukur”. Begitu pesan ibu saat saya mengadu.
Ya, nasihat itu nyata benarnya. Betapa Allah sudah memberikan fisik untuk saya yang lengkap. Saya punya tangan dan kaki lengkap dan beraktifitas pun tidak terhambat. Saat hujan tidak kehujanan, dan ketika panas ada tempat untuk berlindung. Makan pun selalu tersedia 3x sehari. Bahkan lebih. Betapa saya sudah menyakiti Allah dengan prasangka buruk saya saat itu. Hanya karena masalah fisik.
Untuk itulah Allah mewajibkan perempuan dalam islam untuk menutup auratnya. Logika saya adalah, ternyata ini cara Allah menutupi kekurangan umatnya. Ada jilbab dan pakaian tertutup yang melindungi. Dan, mengenai jodoh, cepat atau pun lambat selalu akan ada jalan untuk dipertemukan. Terbukti, pada akhirnya saya menikah dengan laki-laki yang usianya terpaut 8 tahun di atas saya. Yang artinya, jika ditarik mundur, pada saat saya SD beliau sudah kuliah. Nahhhh…
Rasa syukur terus terucap kepada Allah. Karena perjalanan yang telah diberikan-Nya membuat saya kuat dan saat ini belajar menguatkan anak-anak ketika menghadapi bully. Ya, anak-anak dijaman sekarang ini pun banyak yang diterpa bully. Jangan selalu berkata “ngga apa-apa namanya masih anak-anak”. Eits! Jika hal kecil selalu didiamkan maka lama-lama akan tumbuh besar. Memangnya mau saat besar nanti tetap membully?
Pun jika Naurania tanpa disadari berlaku bully terhadap teman-temannya, maka saya dan suami wajib menegur. Lebih baiknya sih jika menegur tidak sedang ada teman-temannya. Jadi, di rumah. Meskipun anak kecil, tapi mereka kan punya hati dan malu. Kalau terpaksa di depan temannya, bisa dilakukan dengan cara lebih pelan.
Melihat anak dibully rasanya menyedihkan. Saya menangis dalam hati. Dan itu rasanya memilukan. Tapi, saya cukup mengawasinya dari kejauhan. Ingin melihat tindakan apa yang akan dilakukannya. Apakah diam atau membalas. Sekaligus mengajarkan Naurania menghadapi lingkungan yang beraneka ragam dan tak terduga.
Stop bully ya teman-teman 😘.
#Day21