MOKEL



Kata Mokel tentu tidak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat suku Jawa.

Mokel adalah seseorang yang sengaja membatalkan puasa di tengah hari. Konotasi Mokel cenderung mengarah pada sesuatu yang negatif. Membatalkan puasa lantaran tidak kuat menahan lapar dan dahaga.

Istilah Mokel semakin populer di Ramadan 2025 ini. Bagaimana tidak, hal ini dikarenakan banyak pemuda-pemudi bahkan orang dewasa yang membuat konten di Media Sosial sekadar untuk memamerkan aksi mokelnya seperti, saat sedang makan siang bersama teman dan beberapa aktivitas lainnya yang tidak pantas dipertontonkan.

Entah konten itu sekadar candaan atau betulan, tapi hal itu sangat tidak layak diperlihatkan. Tingkahnya menandakan minim adab dan kurangnya rasa malu baik terhadap Allah dan sesama manusia. Bagaimana jika hal itu dianggap menjadi identitas muslim? Padahal kan itu ulah oknum semata.

Di luar konten yang tidak bermanfaat itu, pada kenyataannya masih banyak juga kok umat muslim yang kuat imannya dalam menjalankan ibadah puasa. Seberat apa pun pekerjaan yang sedang dijalani, tetap ada yang teguh pendirian mengikuti niat yang telah ditanamkan. Seterik apa pun matahari membakar ubun-ubun, godaan dunia bukanlah penghalang untuk menjalankan perintah-Nya hingga garis finish.

Bahkan usia anak-anak pun juga ada yang kuat berpuasa sampai bedug Maghrib. Perkara mengeluh lapar dan haus sebenarnya hal yang lumrah. Ya namanya juga nggak makan dan minum berjam-jam. Namun, kembali lagi seberapa kemampuan yang dimiliki untuk menahan atau mengalihkan ketidakberdayaan yang sedang dirasakan.

Agama Islam sangat memudahkan. Pada kondisi tertentu atau darurat, ada yang diperbolehkan untuk tidak menjalankan ibadah puasa ramadan. Namun, di luar bulan ramadan ada kewajiban untuk menggantinya baik dalam bentuk puasa atau membayar fidiah. Diantaranya, perempuan yang haid dan nifas, orang sakit, perempuan melahirkan dan menyusui, saat sedang dalam perjalanan jauh, dan beberapa kondisi darurat lainnya.

Semoga tren Mokel itu berhenti di Ramadan tahun ini, ya. Tumbuhkanlah rasa malu. Bagaimana jika jejak digital itu mengakar hingga garis keturunan berikutnya? Bukankah akan menjadi dosa jariah?


Jangan mau menjadi sukarelawan pengikut setan. Buatlah tren yang bermanfaat serta positif.








Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *