JANGAN BIARKAN YANG LAIN MENUNGGU TERLALU LAMA

Akhir pekan adalah waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga. Aktivitas yang dilakukan pun beragam, mulai dari makan bersama, memasak, nonton film, sekadar menikmati perjalanan di sekitar rumah, dan sebagainya.

Pada hari Ahad beberapa waktu lalu, saya dan keluarga menyempatkan untuk makan bersama di restoran cepat saji. Menu ayam goreng kriuk dan burger menjadi incaran anak-anak kala itu.

Meski mengetahui kondisi restoran penuh, saya dan keluarga tetap berkeinginan masuk. Dalam hati yakin pasti setelah memesan makanan akan ada bangku yang kosong untuk empat orang. Ya, memang ada, tapi letaknya di luar. Kursi di dalam nyatanya sudah terisi semua. Sementara, kondisi angin pada saat itu cukup kencang.

Saya berusaha membuat suasana di luar senyaman mungkin. Agar tertular juga pada anak-anak. Sampai pada akhirnya, suami saya berinisiatif masuk dan memastikan kembali apakah ada bangku yang kosong atau tidak.

Alhamdulillah, ternyata ada juga. Meski hanya ada tiga bangku. Sambil menunggu pengunjung yang satu meja dengan kami beranjak, suami saya pun berinisiatif memangku si bungsu dan saya yang bertugas menyuapi. Saya merasa kasihan sebenarnya pada suami, karena makan siangnya tertunda. Dia tentu ingin menikmati makan siangnya secara khusuk. Meresapi gurihnya setiap potongan ayam yang kriuk.

Setelah menunggu (saya tidak tahu pasti berapa menit), akhirnya pengunjung itu beranjak. Ceceran nasi di meja kemudian dibersihkan oleh pelayan restoran. Nampan dan wadah kertas yang dijadikan alas pun tak luput untuk diangkut. Pada akhirnya suami saya dapat pindah tempat dan duduk dengan lebih leluasa. Ayam goreng di hadapan pun langsung dilahap.

Saat itu saya juga sempat memperhatikan suasana di sekitar. Ternyata, pengunjung yang masih mendiami meja makan ada yang makanannya sudah habis alias sudah selesai makan. Itu ‘kan artinya dapat meninggalkan meja makan. Oke mungkin sudah terbiasa selesai makan harus mengistirahatkan diri sejenak, tak mengapa sebenarnya. Namun, alangkah lebih baiknya jangan sampai membuat orang lain yang belum mendapatkan tempat duduk menunggu terlalu lama.

Dan, ternyata dari sekian banyak pengunjung restoran cepat saji masih ada orang-orang yang belum terbiasa dengan kewajibannya begitu selesai makan. Ya, merapikan sampah makanannya sendiri. Semoga memang lupa, ya. Atau memang sedang terburu-buru.

Pokoknya ada saja pelajaran yang dapat saya ambil dari setiap kejadian di luar rumah. Intinya, jangan bersikap bodo amat atau selalu ingat bahwa di sekitar kita ada orang lain yang juga ingin menikmati hal sama.

❤️

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *