Hobi dikala pandemi

Berseliweran teman-teman saya di media sosial memperlihatkan hasil dari perjuangannya berkreasi di dapur. Basic mereka beragam. Mulai dari yang aslinya memang jago masak, sampai ada juga tadinya lebih sering bercocok tanam, membaca buku dan lain-lain jadi berubah haluan.

Pandemi ini benar-benar merubah habbit kebanyakan orang. Dengan alasan takut jajan di luar, jadi mau ngga mau ya harus serba bisa mengolah bahan makanan.

Sementara saya? Masih sama seperti sebelumnya. Hihihi… Kemampuan saya masih sebatas memasak untuk sehari-hari. Itupun rasanya masih sering kurang ini itu.

Pernah saat di awal pandemi saya mempraktekkan resep cemilan crepes. Ternyata hasilnya masih kurang sempurna. Alias ngga kranci seperti gambar yang saya lihat. Resep sih sudah nyontek plek ketiplek. Duuuhh, salahnya dimana ini ya? Bukannya semakin rajin memperbaiki, tapi saya memilih stop. Hihihi… Jangan dicontoh ya ibu-ibu. Spesialnya adalah, alhamdulillah habis dilahap anak-anak ❤😁. Ku terharuuuuu. Hihihi…

Sempat saya lontarkan pertanyaan ke suami, “Sedih ngga, sih punya istri ngga bisa bikin ini itu? Karena teman-teman aku, tuh kebanyakan bisa bikin kue. Bikin makanan macem-macem. Nah, aku?”

“Bersyukur.”

Jawaban simple.

Dan….

Jadi, ibu-ibu, bisa masak atau pun tidak tetap bukan menjadi takaran perempuan sempurna. Karena, bagaimana pun manusia tidak akan bisa mencapai sempurna. Ingat, sempurna hanya milik Sang Kuasa. Ngga perlu sedih, ya. Nikmati dan syukuri kelebihan yang sudah dimiliki.

Mungkin bisa melakukan aktifitas lain. Seperti bercocok tanam. Nahhh, bercocok tanam menjadi kegiatan suami kala WFH pertama kali diterapkan. InsyaAllah nanti saya bakalan ceritain ya. Pokoknya naik turun emosinya merawat tanaman. Hihihi…

Selamat belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *