Seperti yang pernah saya ceritakan di postingan sebelum-sebelumnya, bahwa pada awalnya saya sepakat untuk menyekolahkan Naura ke jenjang SD ketika usianya 7 tahun. Artinya adalah tahun depan. Tapi, nyatanya rencana yang sudah disepakati itu berubah total hanya karena sebuah rengekan yang mengandung air mata. Naura memaksa kami agar tetap menyekolahkannya tahun ini juga. Bukan menundanya lalu memasukkannya ke dalam aktifitas lain sambil menunggu sekolah tahun depan.
Ya Allah, semuanya seperti mimpi. Akan ada perubahan aktifitas di dalam rumah kami. Yang lebih membuat saya kalut adalah, apakah Naura bisa?
“Bisa. Ayah yakin bisa.”
“Kalo ngga bisa gimana? Umurnya kan masih kecil, yah.”
“Semuanya tergantung bagaimana perlakuan orangtua saat di rumah. Makanya, jangan pernah menuntut dia untuk menjadi juara. Biarkan dia belajar sambil bermain. Jika dia gagal, ya sudah kita semangati dia.”
Tentu ada yang berpendapat “memangnya ngga bisa dibujuk?”, “nurut banget sama anaknya.”, dan entah ada pendapat apalagi.
Sebagai ibu, pada saat itu saya tidak punya kekuatan untuk berkata tidak lagi. Sekeras dan segalak apapun saya, nyatanya saya masih memiliki ruang luluh untuk anak-anak saya. Saya menemukan ada semangat dalam matanya. Saya pun tidak ingin memadamkan itu. Tapi, seperti yang suami saya pernah bilang, bahwa saya tidak akan pernah membuat semangat itu terlalu jauh membakarnya. Yang artinya, saya tidak boleh menuntutnya untuk menjadi juara. Biarkan dia tumbuh dan menjadi juara di hati ibu dan ayahnya saja. Karena kami akan selalu menerimanya dalam kondisi apapun juga.
Ini pelajaran untuk saya. Bahwa, sebelum menyekolahkan anak selain melihat kualitas sekolah dan biaya, adalah usia anak itu sendiri. 1 point itulah yang saya lupakan. Ya, usia juga penting. Apalagi jika bulan lahirnya setelah bulan Juli (adalah bulan masuknya murid baru), yaitu antara bulan Agustus-Desember. Pastikan usianya tidak kurang terlalu jauh ketika akan masuk SD. Mengingat setiap sekolah memiliki peraturan mengenai batas minimal usia.
Dan, karena pengalaman Naura lah, peraturan ini baku saya perlakukan untuk Rania. Saya tidak ingin terburu-buru memasukkannya ke dunia sekolah. Biarkan saja dia belajar di rumah bersama saya. Ibunya. Jadi, tidak ada alasan bagi saya menyekolahkan terlalu dini hanya karena alasan untuk mengisi waktu, memperbanyak teman, dan lain-lain.
Nasi sudah menjadi bubur. Menyesal pun tidak ada gunanya. Yang terbaik adalah berjalan bersama dan mensyukuri yang ada.
Maafkan ibu, ya mba Naura 😘❤