Cepat VS Lambat

Di dalam suatu lingkungan keluarga, pertemanan, suatu komunitas, dan sebagainya tentu ada salah satu dari sekian banyak anggotanya yang memiliki kecenderungan makan dengan kecepatan super slow. Jika diibaratkan sedang dalam perjalanan, yang lain sudah sampai Madura sementara satu temannya tertinggal jauh di Bekasi.

Konon katanya, untuk mengetahui kecepatan seseorang dalam bekerja dapat dilihat dari seberapa cepat saat makan. Itu artinya jika makan saja lama selesainya berarti kerjanya juga lama. Apakah benar demikian?

Agar dapat menghabiskan seporsi makanan dalam piringnya ada yang membutuhkan waktu sebentar, alias super kilat. Menjadi keunggulan tersendiri manakala harus sat-set makannya mengingat pekerjaan di meja masih menumpuk. Terlebih bagi ibu rumah tangga yang hari-harinya digelendoti si buah hati.

Namun, apakah hal itu dapat dijadikan tolok ukur bahwa cara makannya cepat berarti kerjanya juga cepat? Sementara, yang makannya lama berarti kerjanya lelet?

Perlu diingat, bahwa ternyata cara makan yang terlalu cepat justru malah memberikan dampak buruk bagi kesehatan tubuh.

  1. Asam Lambung (GERD)
    Asam Lambung ditandai dengan gejala sesak napas dan mulas. Jika pola makan atau bahkan minum yang terlalu cepat tidak segera diubah dan gejala dari penyakit GERD tidak segera diobati, maka bukan tidak mungkin akan muncul penyakit komplikasi lainnya seperti, penyempitan yang terjadi pada kerongkongan dan bahkan lebih parahnya lagi adalah kanker.
  2. Kenaikan Berat Badan
    Faktanya, tubuh memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk dapat mengirimkan sinyal pada otak bahwa sudah saatnya berhenti makan. Namun, jika mengonsumsi makanan dilakukan dengan cara cepat, maka bukan tidak mungkin dalam jangka waktu tersebut akan menghabiskan banyak makanan melebihi porsi yang seharusnya. Jika hal itu terus dilakukan, maka jarum timbangan pun akan semakin ke kanan.
  3. Sindrom Metabolik
    Sindrom metabolik bersinggungan dengan resistensi insulin. Keduanya dapat memicu risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2.
  4. Proses Pencernaan Menjadi Lebih Lambat
    Makan terlalu cepat menciptakan kebiasaan menikmati makanan dalam jumlah besar. Selain itu, cara mengunyahnya pun menjadi asal-asalan. Meski tingkat mengunyah makanan tergantung pada jenis makanannya, tapi mengunyah makanan secara umum disarankan sebanyak 20-30 kali.
    Dampak buruk dari kebiasaan di atas dapat membuat organ dalam tubuh seperti usus dan lambung bekerja sangat keras dalam mengolah makanan.

Bagi siapa pun yang memiliki kebiasaan makan dengan julukan lelet, sebenarnya tidak perlu minder. Pun jangan takut ditinggal sendirian di meja makan. Nikmatilah hidangan tanpa perlu terburu-buru seperti dikejar binatang buas. Jika memang ada pekerjaan mendesak, maka pesan dalam porsi sedikit atau makan secukupnya dan simpan sisanya.

Itu artinya, makan cepat tidak ada hubungannya dengan cepat atau tidaknya seseorang dalam bekerja. Untuk dapat mengetahui seberapa cepatnya seseorang bekerja adalah melalui kebiasaan sehari-harinya ketika menyelesaikan permasalahan, mengelompokkan pekerjaan yang wajib diselesaikan di hari tersebut dan pekerjaan yang masih bisa dikerjakan setelahnya, dan tentu masih banyak lagi kriteria lainnya.

Sumber Info:

  • https://www.alodokter.com/risiko-makan-cepat-dan–manfaat-makan-lebih-lambat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *