Entah kenapa hujan begitu dalam memberikan kesan. Selalu senang menyambutnya. Seperti beberapa bulan ini aku pun rindu dengannya. Aroma tanah yang kemudian menyeruak memberikan kesan alam yang tak bisa dijelaskan.
Seminggu setelah lebaran tahun 2018, saya, suami dan anak-anak menyempatkan pulang kampung ke Sulawesi Tenggara. Tepatnya di desa Bima Maroa, Andoolo, Konawe Selatan. Dimanakah itu? Yang pasti letaknya jauh dari kota Kendari. Untuk sampai di tempat tujuan harus naik turun gunung, belok kanan-kiri, dan yang pasti saya harus mengkonsumsi obat anti mabok darat. Alhasil, alhamdulillah saya tidak merasakan mual seperti tahun lalu saat pulang kampung.
Kedatangan kami ternyata disuguhi hujan esok harinya sampai 3 hari. Dan begitu 2 hari sebelum kami kembali ke jakarta, matahari mulai berani menampakkan diri. Rasanya hangat menemukan matahari setelah beberapa hari berteman dingin. Yang pasti merupakan kegembiraan tersendiri bagi ibu rumah tangga. Yaitu, baju-baju yang tadinya tak kunjung kering berhasil meninggalkan jemuran.
Merasakan hujan berhari-hari di desa tidak membuat ku khawatir akan menghadapi banjir. Tanah, tumbuhan, dan langit seperti bersahabat. Tak saling menyakiti. Meskipun, ternyata tetap ada manusia lain yang khawatir. Seperti, petani yang gagal panen, dan mereka yang urung memetik hasil kebun lantaran bunga-bunga bakal buah yang gugur diterpa hujan. Bukan hanya itu, jalanan yang belum dibeton pun banyak yang berlubang. Guyuran hujan yang terus menerus membuat pasir yang dijadikan landasan di jalan hanyut mengikuti aliran air, dan tekanan terhadap tanah semakin kuat sehingga menjadi berlubang.
Jadi, sebenarnya musim hujan sudah datang jauh sebelum kami pulang kampung. Tapi, aku tetap bisa menikmati kehidupan di desa yang menurutku mampu mendaur ulang pikiran ruwet lantaran terlalu lama tinggal di kota yang penuh hiruk pikuk. Hujan, betapa aku sangat menyukainya.
***
Nyatanya, begitu kembali ke rumah, hujan belum turun untuk menemui tanah yang mengering kala itu. Hujan, sungguh kami menantimu. Atau jangan-jangan Tuhan marah. Lantaran umatnya serakah, lupa sedekah, dan lupa siapa yang menciptakannya. Dan jangan sampai Tuhan marah hanya karena doa-doa yang egois. Ketika Tuhan akan menurunkan hujan kemudian urung turun hanya karena ada manusia yang mendadak berdoa agar hujan ditangguhkan. Pleaseee…, hujan itu berkah. Jangan takut bila turun hujan. Makanya dalam agama islam diajarkan berdoa ketika hujan turun. Agar hujan turun selalu membawa manfaat. Di dalam hujan ada senyawa yang bisa mengantarkan doa yang baik agar diijabah Tuhan. Itu keyakinan kami (keyakinan atau ajaran di setiap agama berbeda. Maaf jika kurang berkenan). Kalaupun tiba-tiba banjir atau ada longsor, pasti ada rumus sebab akibatnya. Buang sampah sembarangan, got mampet, hutan gundul, dan hal-hal bodoh lainnya yang sebenarnya diciptakan sendiri oleh manusia.
Dan, aku percaya, Tuhan tidak akan memberikan kisah atau perjalanan pada umatnya melebihi kemampuannya. Karena Allah sang pemilik jagat raya ini masih sudi mempertemukan hujan kepada bumi. Meski hanya dalam hitungan menit, dalam jarak sebulan, dan bahkan turun saat malam tanpa manusia tahu bahwa ada hadiah penyejuk yang menyirami tanah.
Percayalah, hujan akan memberikan cerita indah disetiap kedatangannya. Selama manusia dan sekitarnya selalu baik kepada-Nya. Percayalah, hujan dan Tuhan itu saling berbicara dan mendengar keluh kesah dan raut bahagia manusia. Pecayalah, hujan adalah milik Tuhan sang pencipta.