Saat masih duduk di bangku SD, saya lebih sering berjalan kaki bersama teman-teman untuk sampai di sekolah. Pun saat pulang ke rumah tak gentar melawan matahari yang semakin gagah berani. Capek? Sudah pasti. Namun, dari seringnya berjalan kaki membuat saya mengetahui jalan-jalan sempit di Desa yang luput dari jangkauan. Soal kulit juga nggak perlu diragukan lagi. Sudah pasti gosong. Hihihi …
Berjalan kaki di desa memang lebih nyaman. Enggak perlu was-was. Karena, faktor pengguna kendaraan roda dua dan empatnya masih minim.
Lain di desa lain pula di kota. Kendaraan roda empat dan dua lebih sering berseliweran. Terasa sesak. Bagi yang senang berjalan kaki, tentu memiliki kekhawatiran tersendiri di saat harus menyusuri tepian jalan yang ramai. Coba teman-teman perhatikan, bahwa belum tersedianya secara merata fasilitas trotoar di beberapa titik. Padahal trotoar sangat bermanfaat untuk para pejalan kaki. Trotoar yang sudah ada malah lebih sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak berkepentingan.
Sebagai orang tua, tentu saya merasa tak aman bila harus membiarkan anak-anak (Naurania) berjalan di tepi jalan sendirian tanpa adanya pengawasan. Terlebih di jalanan yang tak memiliki trotoar. Mau tidak mau pejalan kaki harus berbagi tempat dengan kendaraan yang belum tentu lajunya pelan.
Anak-anak tentu saja masih minim kesadaran akan pentingnya sikap hati-hati di jalanan umum. Mereka masih belum paham mana batas aman dan apa yang boleh serta tidak boleh dilakukan saat berada di jalanan umum.
Sebenarnya jalanan yang tak memiliki trotoar bukan saja tidak aman bagi anak-anak. Bahkan seluruh lapisan masyarakat pun menurut saya dituntut agar memiliki sikap waspada. Saat pejalan kaki menyusuri jalanan yang tak seluas jalan Sudirman, mau tidak mau harus bergerak cepat dan tak berjalan secara berdampingan.
Sangat tidak heran bila ada yang enggan berjalan kaki. Lebih memilih naik motor atau kendaraan lainnya. Alasannya memang supaya lebih cepat. Namun, di dalam hati yang paling dalam tentu juga terselip rasa tak nyaman lantaran tak aman. Padahal, berjalan kaki dapat membuat tubuh lebih sehat. Lebih dari itu, akan mengurangi polusi udara.
Dalam laman halodoc.com dijelaskan, bahwa terdapat 6 manfaat yang akan didapatkan jika melakukan aktivitas jalan kaki:
1. Memperkuat fisik tubuh
2. Menghindari penyakit kronis
3. Membantu membakar kalori
4. Meningkatkan imun tubuh
5. Meningkatkan energi
6. Meningkatkan suasana hati
Trotoar di kota-kota besar seperti Jakarta dan Kota lainnya sebagian besar memiliki guiding block berwarna kuning. Guiding block yang disediakan khusus untuk penyandang tunanetra itu beberapa malah ada yang ‘terputus’ oleh berbagai macam faktor. Yang artinya tidak terawat baik, tidak berjalan sesuai fungsinya. Mulai dari terhalang oleh pedagang, pemilik kendaraan yang sembarangan parkir, bahkan ada yang sengaja merusak, dan masih banyak lagi sebabnya.
Guiding block sangat penting bagi mereka yang membutuhkan. Karena, tunanetra sama-sama memiliki hak untuk memanfaatkan trotoar. Memiliki hak yang sama seperti pejalan kaki lainnya. Guiding block berfungsi menghindari insiden menabrak, dan agar tidak tersesat atau salah arah. Terdapat dua pola dalam guiding block, yaitu bulatan kecil dan garis lurus. Bulatan kecil artinya berhenti dan garis lurus adalah dapat terus berjalan.
Besar harapan saya, semoga trotoar yang telah disediakan oleh pemerintah dapat difungsikan sebagaimana mestinya. Dapat dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat yang mendambakan kenyamanan saat berjalan kaki.
Masyarakat sebaiknya juga turut menjaga fasilitas yang telah disediakan. Pada wilayah-wilayah yang belum memiliki trotoar dan sepertinya tidak memungkinkan untuk ada, semoga pengendara memiliki kesadaran tinggi agar tidak ugal-ugalan. Saling menghormati sebagai sesama pengguna jalan.
Semuanya tentu menginginkan selamat dan sehat sampai di rumah.