Penting enggak penting, sih, tapi benda ini memang wajib ada di dapur. Apalagi kalau pas malam dan tiba-tiba dapat serangan perut keroncongan, dalam tudung saji enggak ada isi, pasti jalan pintasnya ya goreng telur.
Saat akhir bulan belum gajian, harus banyak mengerem pengeluaran, satu jalan di antaranya ya biasanya masak telur. Entah itu diorak-arik, ceplok, atau balado ceplok kuah. Hemmm … cuma dicampur nasi hangat langsung bisa bikin nelen ludah berkali-kali. Kalau saya biasanya ditambahi saos dan kecap di atasnya.
Namun, kenaikan harga membuat keadaan berubah. Sudah beberapa hari ini harga telur melambung tinggi. Bervariasi harganya, mulai dari 31.000-35.000. Pemilik warung dekat rumah saya bahkan ada yang sementara waktu tidak menjual telur. Takut tidak laku, begitu katanya. Benar juga, sih. Ada kemungkinan besar banyak yang memilih puasa makan telur. Berganti ke tempe atau tahu misalnya.
Teori mengatakan, bahwa tingginya permintaan yang tidak dibarengi dengan ketersediaan barang membuat harga melambung jauh. Benar atau tidaknya, keadaan di lapangan tentu yang bisa membuktikan.
Sebenarnya, bukan cuma telur yang harganya naik. Minyak goreng dan cabai juga mengalami nasib serupa. Duh, kebayang enggak sih, pas lagi pengin telur ceplok, pas minyak goreng tinggal dikit, akhirnya bela-belain telurnya direbus. Hihihi … Sebenarnya tetap enak juga, sih, makan telur rebus. Tapi, segala sesuatu yang menyatu dengan minyak itu lebih afdol menurut saya. Hihihi … Intinya semuanya serba harus diirit-irit sementara waktu. Harus pandai mengelola kebutuhan.
Semoga kenaikan harga telur dan bahan pokok lainnya tidak berlangsung lama. Segera kembali normal, ya, bu ibu. Jadi, enggak ada lagi suara teriakan baik dari penjual atau pun pembeli. Aamiin. Pliiiis, jual mahalnya jangan lama-lama.
Semoga keadaan ini juga tidak dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, ya.
Salam sehat akal dan pikiran.