Saat saya masih kecil, bapak dan ibu sering berpesan, “Jangan jadi petani. Jadilah orang sukses tanpa harus bersusah payah pergi ke ladang atau sawah.” kurang lebih begitu.
Yang terjadi, justru sekarang banyak yang tinggal diperkotaan berbondong-bondong belajar bercocok tanam sayur mayur dan segala macam tanaman lainnya. Termasuk saya dan suami.
Sebenarnya ide bercocok tanaman sayur adalah dari suami. Daripada menanam tanaman hias dan berujung mati seperti yang sudah-sudah, lebih baik menanam sayur yang lebih menghasilkan. Kalaupun gagal, sedihnya ngga akan lama. Karena bibitnya dijual murah. Lebih murah lagi kalau memilih cara regrow. Seperti kangkung dan bayam yang tinggal tancap bagian akarnya (sisakan batangnya sedikit yang dekat akar). Biasanya potongan itu saya dapatkan dari sayur yang saya beli untuk konsumsi. Bisa juga menanam cabai atau tomat dari biji bahan yang saat itu akan dimasak. Jadi disisakan sedikit lalu dijemur kemudian tanam.
Saya dan suami belajar otodidak. Mulai dari memperbaiki kualitas tanah di halaman yang luasnya alhamdulillah cukup untuk area bercocok tanam, belanja bibit, pembibitan dan memindahkan bibit ke polibag.
Jadi, kenapa kualitas tanah di halaman rumah harus diperbaiki? Singkat cerita, tanahnya termasuk keras dan berjamur (versi saya dan suami 😁). Kalau berjamur kan berati ngga sehat, ya. Jadilah tanahnya dicangkul sampai gembur dan sembari mencabut rumput-rumput liar yang memiliki potensi mengganggu. Bukan hanya itu, tanahnya pun dicampur pupuk. Berharap akan membuat bibit tumbuh dengan subur. Meskipun nantinya banyak tanaman yang akan diletakkan di polibag, tapi tidak menutup kemungkinan akan ada bibit yang disebar begitu saja ke tanah.
Bagaimana hasilnya? Ternyata tidak semudah yang dilihat di media sosial saudara-saudara. Tapi, bisa jadi memang cara kita yang salah. Jadi, tumbuh kembangnya sempat mengalami keterlambatan. Selidik punya selidik, ternyata kurang tersentuh cahaya matahari. Alhasil mulai geser-geser posisi agar tersentuh sinar. Bukan hanya itu, terlalu banyak air pun sangat tidak bagus. Seperti daun bawang bisa dijeda misalnya 3 hari sekali. Karena jika berlebih bisa membusuk.
Kuncinya adalah sabar. Jika gagal ya tanam lagi atau dirawat supaya tumbuh dengan baik lagi. Jangan lupa pelajari dari kesalahan yang pernah terjadi. Sehingga bisa meminimalisir kesalahan.
Kegiatan bercocok tanam sayuran ini bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu luang selama pandemi. Aktifitas ini pun memang kami pilih ketika pertama kali WFH dilakukan. Dannn, setelah berbulan-bulan lamanya kami bersabar, akhirnya ada hasil yang dapat kami nikmati. Meskipun tak sebanyak ketika membelinya di abang sayur, tapi senyum sumringah kepuasan dari hati yang terdalam tidak bisa digantikan.
Percaya deh, meskipun hanya 2 buah cabai yang dipanen, 2 batang bayam yang subur dan kangkung yang jika dimasak hanya cukup untuk 1 orang saja, itu pun memiliki kepuasan tersendiri.
Yuk bercocok tanam! Tunggu apalagi. Selain biayanya murah, juga insyaAllah bisa menyegarkan mata.
Selamat bercocok tanam ❤