Buah mangga

Di halaman rumah sengaja ditanami pohon mangga yang meskipun masih pendek tapi insyaallah bisa berbuah. Entah saya lupa istilah nama pohonnya apa. Saat baru menanamnya, sebenarnya sudah muncul buah meski masih kecil. Tapi, hanya bertahan beberapa lama kemudian jatuh. Entah jatuh karena ada yang sengaja memetik atau memang jatuh karena waktunya. Sedih? Iya. Karena saya penasaran dengan rasa buahnya. Plus seperti ada kesenangan tersendiri ketika memetik buah dari hasil pekarangan sendiri. Meskipun hanya satu.

Waktu berjalan. Tiba saatnya musim buah mangga lagi. Tapi, dari beberapa tetangga yang memiliki pohon mangga, hanya pohon mangga saya yang tidak berbuah. Ya sudahlah, saya pun tidak ambil pusing. Malahan pohonnya sering saya pangkas. Karena cabangnya terlalu rimbun. Tetangga pun pernah mengingatkan, bahwa jangan sering memangkasnya. Bisa-bisa nanti pohonnya ngambek dan ngga mau berbuah. Dalam hati saya berkata, sampai segitunya ya pohon seperti perasaan manusia. Bisa ngambek.

Dipikir-pikir iya juga ya, kenapa kok hanya pohon mangga saya yang tidak berbuah. Bahkan sampai muncul niatan jika dalam waktu setahun pohon itu tidak menghasilkan buah, maka akan saya tebang. Tapi, ketika niatan itu akan saya laksanakan, saya merasa bahwa seperti manusia tidak bersukur. Memanfaatkan pohon hanya untuk mendapatkan buahnya saja. Padahal, ada lebih dari itu. Ketika itu datang musim kemarau, debu berterbangan tak karuan, dan matahari begitu terik. Alhamdulillah karena adanya pohon mangga yang letaknya berhadapan dengan jendela dan pintu, jadi mampu mengurangi silau dan debu meskipun tidak sepenuhnya. Dan, urunglah niatan saya untuk menebangnya.

***

Kurang lebih 4 tahun berlalu. Di tahun 2019 ini ternyata Allah memberikan hadiah pada pohon mangga yang selama ini telah hadir di halaman rumah dengan sabar. Adalah bakal buah yang mulai menampakkan diri. Selama ini saya acuhkan ketika bunganya hadir. Saya anggap bahwa itu akan rontok. Ditambah angin yang sering bertiup kencang kala itu. Tapi, ternyata mereka bertahan dalam jumlah banyak. Dan semakin bertambah besar. Muncul kesenangan tersendiri. Alhamdulillah. Itu artinya sebentar lagi saya bisa menikmati buah mangga dari pohon milik sendiri. Agar si pohon semakin rajin berbuah, sampai ada tetangga yang memberikan pupuk khusus untuk tanaman. Alhamdulillah…
Saya pun berinisiatif untuk menutupnya menggunakan plastik. Hanya bagian bawah saja yg sengaja dilubangi cukup besar sebagai keluar masuk udara. Seperti kebanyakan orang yang melakukan hal itu. Istilah jawanya ‘ngimbu’. Tapi, kalau menurut suami itu tidak ada gunanya. Hanya akan membuat busuk atau matang terlalu cepat. Jadi, lebih baik dibiarkan secara terbuka saja. Toh pohon mangga yang tingginya menjulang pun buahnya tidak ditutup plastik. Dan, tetap bisa matang juga. Akhirnya, daripada berdebat panjang, hanya mangga yang dekat pagar yang saya lindungi dengan plastik. Sementara sisanya karena posisinya berada jauh lebih tinggi dan ada yang berada di bagian dalam jadi tidak perlu.

Kondisi pohon yang ‘tulang’ utamanya tidak sebesar pohon pada umumnya, ternyata tidak mampu menopang beban tubuhnya yang semakin berat. Jadi, saat hujan datang dan disertai angin, otomatis pohon mangganya miring. Dan, masalahnya miringnya ke arah jalan. Jadi, saya takut ada yang iseng memetik si buah yang masih ranum. Akhirnya saya satukan cabang pohon yang sudah miring menggunakan tali rapia. Bahkan, karena semakin miringnya, pertolongan tali rapia seperti sia-sia. Saya pun manfaatkan plastik bekas pembungkus, lalu saya gunting kedua sisinya dan saya jadikan tali. Berhasil? Enggak juga. Terpaan hujan yang semakin sering akhirnya membuat saya pasrah saja karena pohonnya semakin miring.

***

Sore itu, saya mendapat kabar bahwa ternyata ada beberapa anak yang sengaja memetik pohon mangga saya. Saat itu rumah kosong. Mereka tahu saya sedang tidak di rumah. Jadi, dengan leluasa memetiknya.

Sedih! Kesal! Apa yang saya takutkan ternyata benar terjadi. Meskipun mulut berkata iklas, tapi hati saya masih bergemuruh.

“Ya sudah sana kamu marahin saja anaknya! Daripada kamu seperti itu. Itu namanya dendam. Ngga bagus.”

Begitu kira-kira ucapan suami ketika mengetahui saya masih saja kesal.

“Ibunya kan sudah minta maaf. Berati anaknya juga sudah dimarahi.”

Saya masih diam.

“Itu kan cuma mangga. Di luar juga banyak yang jual.”

Tapi….

Saya masih kesal.

“Makhluk hidup di dunia ini adalah ciptaan Allah. Artinya bukan hanya manusia yang memiliki takdir kematian. Tapi, juga tanaman dan isinya. Begitu pun dengan buah mangga itu. Mungkin kehidupannya hanya sampai disitu.”

“Kalau pun buah itu tidak dipetik oleh mereka, tapi Allah juga yang punya kehendak. Belum tentu juga mangga itu bisa kamu nikmati. Ingat, semua makhluk hidup memiliki takdir dan cerita masing-masing.”

😢

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *