Pagi itu, banjir menyapa jalanan perumahan tanpa kompromi. Bahkan nyaris menyentuh lantai garasi. Padahal lantai itu sengaja kami design cukup tinggi dibandingkan beberapa rumah tetangga lainnya.
Seorang sahabat mengatakan bahwa kondisi rumahnya yang berhadapan dengan lapangan sudah terkepung banjir. Bahkan telah masuk ke garasi. Saya beranggapan bahwa kondisi itu tidak terjadi dengan saya. Seperti yang telah saya katakan tadi, karena posisinya cukup tinggi. Jadi, saya masih menikmati pagi dengan langkah malas seusai shalat subuh. Tapi, begitu jendela dibuka, betapa terkejutnya ketika melihat air menggenangi jalanan.
Subhanaallah.
31 Desember 2019, hujan turun sejak sore. Sesekali berhenti sebentar kemudian turun lagi. Tidak ada prasangka. Justru saya dan keluarga mensyukuri karena bukan bunyi petasan yang kami dengar. Seperti tahun-tahun sebelumnya ketika pergantian tahun selalu diramaikan petasan dan kembang api. Bising. Tapi, siapa yang menyangka bahwa ternyata hujan yang datang sebelum malam kala itu adalah pertanda datangnya bencana.
Banjir dirasakan oleh hampir seluruh warga Jakarta, Bekasi, dan sekitarnya. Kaya miskin tak pandang bulu. Orang biasa dan terkenal pun berada dalam pusaran sendu. Awalnya muncul ketakutan, namun pada akhirnya pasrah melihat harta benda hanyut terseret air. Mobil mewah yang harganya ratusan juta mengalir begitu saja seperti perahu kertas. Ikhlas tidak ikhlas ya harus tetap dibiarkan. Kemudian teronggok begitu saja bertumpukkan dengan mobil-mobil lainnya. Bahkan ada yang kemudian tersangkut di pagar dan penyok tak karuan.
Banjir di area rumah saya pun ternyata masih dalam skala kecil. Karena, di luar sana ada yang airnya mencapai atap rumah, dan dada orang dewasa. Bahkan arusnya pun ada yang sederas aliran sungai. Mengikis tanah, aspal, dan berhasil menjebol tembok pembatas. Subhanaallah.
Saya pun mulai memikirkan keadaan teman-teman sekolah Naura. Apakah ada yang terkena banjir? Qadaraallah, mereka yang terkena banjir ternyata banyak. Bertambah sedih ketika mengetahui bahwa seragam dan peralatan sekolah pun menjadi korban. Sebagian tidak bisa menyelamatkan harta benda karena sedang berada di luar rumah. Entah itu berlibur, ke rumah saudara, dsb.
Saling menyalahkan bukanlah jawaban pertanyaan “kenapa banjir lagi banjir lagi?”. Ayo bangkit dan bergotong-royong menyelesaikan masalah yang ada. Kemudian bersama-sama bertindak untuk meminimalisirnya. Menyerahkan begitu saja kepada sebuah pemerintahan saya rasa tidak akan berjalan seimbang. Karena kedua kaki harus berjalan beriringan agar seimbang. Adalah masyarakat dan pemerintah itu sendiri.
Dari peristiwa ini saya sekaligus mengajarkan rasa bersyukur kepada anak-anak. Bahwa meskipun jalanan di depan rumah banjir, dan akibatnya tidak bisa keluar rumah, tapi air tidak sampai membasahi isi rumah. Masih bisa tidur nyenyak, masih bisa makan, minum, dan mandi kapan saja. Jadi, rasanya malu jika mengeluh.
Moms, PR masih banyak meskipun banjir telah surut. Tetap jaga kesehatan, ya.
☔