BJ. Habibie

Dulu, saya mengetahui beliau hanya melalui media Tv. Itu pun seperti angin lalu saja. Dan, terakhir semakin tertarik untuk mengenalnya begitu film Habibie & Ainun release. Pada jaman pemerintahan beliau, kala itu saya masih duduk di bangku SD.

Malam itu (11 september 2019), di sela-sela menemani anak belajar, saya membuka aplikasi chat yang logonya berwarna hijau itu. Seperti petir yang datang tanpa ditemani hujan. Berita duka itu menyesakkan. Berita duka yang mengejutkan seluruh Indonesia. Tak terkecuali saya. Kabar itu benar adanya. Bukan hoax seperti yang sudah-sudah.

“Innalilahi wainna ilaihi rojiun”

Entah bagaimana cerita berakhirnya, dan entah lama atau pun sebentar singgah di dunia, makhluk hidup pasti akan pulang ke tempat-Nya. Meninggal bukan pergi. Tapi, pulang.

***

Air mata itu turun begitu saja. Jemari terus mencari sosoknya di media. Mencari kisahnya. Mengenang segalanya. Entah apa yang ada di pikiran Naurania (naura dan rania) ketika melihat ibunya menangis tak berkesudahan. Tumpah ruah air mata. Hingga memerah mata saya. Dan, kesedihan saya rupanya membuat anak-anak mengenal siapa itu Habibie.

“Beliau presiden ke 3, nak.” begitu jawaban saya ketika mereka bertanya. Mereka pun menaruh empati. Turut bersedih. “Kasihan, ya bu pak Habibie.” “Istrinya mana, bu?” “Kok meninggal, bu?”

Esoknya, beberapa pekerjaan rumah saya tunda. Demi melihat prosesi pemakaman beliau. Seperti ada pilu yang tak akan berkesudahan. Semakin dalam menatap semakin larut dalam kesedihan.

Kisah cintanya membuktikan bahwa memang ada pasangan setia hingga ajal tiba. Beliau meninggalkan jejak perjuangan dan semangat membara. Tentang keberanian untuk menghadapi kematian yang pasti akan datang. Tentang keramahan melalui senyuman kepada setiap insan. Tentang sikap positif meskipun di sekelilingnya acapkali berbeda kenyataan dan pandangan. Tentang semangat juang untuk generasi muda.

Saya semakin kagum terhadap beliau ketika anak keduanya muncul di media dan memberikan tanggapan mengenai masyarakat yang selfie di makam eyang sesaat setelah pemakaman. Dimana seharusnya datang ke makam adalah untuk mengingat kematian, dan mendoakan yang telah meninggal. Tidak ada amarah, tidak ada sumpah serapah darinya. Laki-laki berpostur tinggi itu welcome dan memaklumi bagaimana kebiasaan masyarakat di era digital sekarang ini.

Dari 1 kejadian itu, saya sudah dapat memastikan bahwa eyang habibie dan istrinya begitu baik dalam mendidik anak-anaknya.

***

Ada perintah agar mengibarkan bendera setengah tiang, tapi itu tidak saya laksanakan. Biarlah simbol kenegaraan itu tersimpan. Karena mengirimkan doa terbaik jauh lebih melapangkan jalan eyang.Ya, yang ku tahu beliau lebih akrab disapa eyang.

Gajah mati meninggalkan gading. Manusia mati meninggalkan nama. Ya, itulah eyang Habibie. Meninggalkan sejuta cerita semasa hidupnya. Meski manusia tak sempurna, tapi nyatanya keburukan yang tentu pernah eyang lakukan tertutup begitu saja dengan kebaikan eyang yang memang dirasakan oleh kebanyakan.

Tak akan ada habisnya berkisah tentang eyang Habibie. Hingga air mata mengalir, kering, dan mengalir lagi pun belum tuntas cerita semasa hidupnya.

InsyaAllah Husnul Khotimah eyang Habibie ❤

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *