Celoteh

Memiliki anak yang hidup di era modern, sebagai orangtua harus update tentang berbagai informasi. Apapun itu. Bukan karena takut kalah saing atau kalah gaul. Tapi, ini soal pengetahuan yang takut salah diterjemahkan oleh si anak. Sekarang segalanya nyaris serba cepat. Jadi, sebagai orangtua harus memiliki benteng untuk mengontrol anak-anak. Baik itu melalui ilmu agama, parenting, dan ilmu lainnya yang berhubungan dengan perkembangan informasi lainnya di luar sana.

Apa yang telah ditanamkan, maka akan ada hasil yang didapatkan. Tergantung apakah kita menanamkan hal positif atau justru negatif. Jadi, beberapa waktu lalu (bertahun-tahun lamanya 😁) saya pernah membaca mengenai ilmu parenting perihal mengajarkan anak dalam penuturan bahasa hal-hal sensitif (kelamin). Jadi, tidak ada yang boleh ditutupi. Ketika itu namanya adalah A, maka kita harus memberitahu bahwa itu namanya A. Bukan Au. Tapi, ternyata ilmu saya masih jomplang. Ada sudut pandang lain yang belum saya ketahui. Adalah dalam sudut pandang agama saya. Yaitu islam.

Ternyata, dalam ajaran Rasullullah, bahwa menyampaikan sesuatu pada anak-anak adalah dengan tutur kata sopan dan santun. Demikian kurang lebihnya ketika saya membaca postingan salah satu motivator andalan saya di IG. Namanya mba Julia Sarah Rangkuti. Ibu-ibu bisa mulai mengikutinya, lho. Hehehe….
Misalnya seperti ini: ketika memberitahu pada anak laki-laki dan perempuan mengenai alat kelamin, alangkah baiknya menuturkan bahwa itu namanya adalah ‘kemaluan’ atau bisa juga dikatakan ‘aurat’. Nah, terdengar santun kan? Saya pikir-pikir benar juga, sih. Tidak terdengar seronok dan frontal. Apalagi di telinga mereka yang masih anak-anak. Ingat, ya ini adalah dalam dunia anak-anak. Jadi, mengajarkan sesuatunya harus pelan-pelan dan halus. Berbeda ketika mereka nanti sudah dewasa. Kita mungkin bisa memberikan informasi sesuai dengan bahasa biologi. Terlebih ada pelajarannya juga kan di sekolah.

Pun saya jelaskan juga mengenai batasan aurat perempuan dan laki-laki.

Sempat ada protes dari si bungsu ketika menyadari bahwa salah satu tantenya tidak memakai jilbab. “Kok tante …. ga pakai jilbab, sih bu?” protesnya. “Iya belum, dek. Kita doakan semoga cepat pakai jilbab, ya.” saya berusaha menenangkan gejolak protesnya. “Ih, ga boleh begitu! Dia kan islam. Auratnya keliatan”. Kemudian saya ajak dia berdiskusi tentang hal lain. Hihihi… Maafkan ya, nak. Kamu protesnya pelan-pelan saja, ya. Ibu syok…
***

Kasus ke 2:

Jadi, anak kedua saya akhir-akhir ini banyak mengeluarkan kalimat atau pun kata seputar pernikahan. Nanti aku mau memakai gaun princes kalau menikah, begitu celotehnya. Kenapa ibu menikah? Kenapa ayah menikah? Nanti adik kalau menikah ditemenin ayah ya? Waktu ibu ayah menikah, adik dimana? Nanti aku menikah pakai kerudung terus ada mahkotanya seperti tante. Kok tante waktu itu menikahnya ga pakai kerudung? Kan aurat.

Saya takjub dan dibuat bingung. Takjubnya adalah dia paham bahwa harus memakai kerudung sebagai perempuan muslim. Dia tahu dimana letak aurat. Sekaligus dibuat bingung lantaran begitu banyaknya pertanyaan dan pernyataan seputar pernikahan.
Beberapa kali dia melihat pernikahan tante-tantenya dan menghadiri pernikahan teman kerja ayahnya, jadi menurut saya mungkin itu yang melandasinya sering berucap mengenai pernikahan.

Celotehan itu awalnya saya anggap biasa. Tapi, kemudian saya tersadar bahwa mungkin ini signal untuk saya dan suami agar selalu ekstra menjaganya. Saya tidak ingin masa pubertasnya datang lebih awal menggantikan masa bermainnya. Tapi, saya tidak melarangnya secara frontal. Pelan-pelan saya dan suami memberikan pengertian.
Kemudian saya katakan padanya, bahwa ketika seorang anak masih kecil, maka tugasnya adalah sekolah, belajar dan bermain. Ketika nanti sudah dewasa, sudah selesai sekolahnya dan sudah bekerja, maka boleh menikah.

Dan, muncullah pertanyaan baru lagi. Dewasa itu apa, sih bu? 😅 Ya Allah ternyata belum ada ujungnya. Hihihi…

***

Kasus selanjutnya…

Ketika sedang menonton TV, tiba-tiba si bungsu mengeluarkan celotehnya lagi. “Ibuuu… Ih itu aurat. Kelihatan.” dari suaranya terdengar syok. “Itu auratnya kelihatan, ibu.”

Saya pun penasaran dan meninggalkan aktifitas di dapur menuju ke ruang tengah. Ternyata dia melihat tayangan iklan deodorant 😂. Moms tahu sendiri kan bagaimana iklan ketiak? Tentu sebagian besar pemerannya memperlihatkan ketiak dan bahkan tak jarang pula pakaiannya minim. Entah itu baju atau celananya. Saya tidak ingin membahas itu. Tapi, bahasan saya adalah mengenai pemahaman Rania mengenai aurat. Perasaan saya campur aduk. Ternyata anak saya alhamdulillah menyerap informasi yang saya sampaikan dengan baik. Bahkan menyampaikannya pun dengan bahasa masih enak didengar juga. Masyaallah.

Dari beberapa cerita saya tadi apakah moms pernah mengalami hal seperti saya? Seperti mendapat serangan senjata bertubi-tubi ya saat mendengar celoteh anak-anak. Makanya banyak hal penyampaian kata yang harus disampaikan apik agar ketika anak mengucapkan lagi pun yang keluar adalah kata baik pula.

Selamat belajar moms…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *