Dokter gigi dadakan

Entah sudah berapa gigi susu Naura yang tanggal. Yang pasti sudah lebih dari 2. Tidak terpikir sedikitpun bahwa saya yang akan membantunya mencabut gigi-gigi mungil itu. Karena yang ada dalam bayangan saya dulunya adalah ketika gigi goyang langsung ke dokter. Ternyata, setelah saya bertanya pada beberapa teman, bahwa akan percuma pergi ke dokter gigi jika gigi yang goyang masih dalam kondisi kuat. Pasti akan disuruh pulang. Jadi, lebih baik dilakukan sendiri saja. Masalahnya, saat itu gigi permanennya pun sudah menampakkan diri meskipun baru setitik yang terlihat. Panik? Tentu. Karena saat itu adalah pengalaman pertama saya.

Tapi, alhamdulillah berkat kerjasama yang apik antara ibu dan anak, jadi proses pencabutan berjalan damai. Bahkan pernah secara tidak sengaja giginya tanggal sendiri tanpa disengaja, karena Naura yang kesulitan membuka tutup botol minum terpaksa membuka menggunakan gigi. Dan, tanggallah gigi itu.

Menjadi dokter gigi untuk anak sendiri, tuh rasanya gemas-gemas takut. Hihihi… Jadi, maunya main tarik seolah-olah gampang copot. Tapi, ngeri juga kalau ternyata malah patah. Kan repot meninggalkan patahan. Tambah susah deh ngambilnya.

Saat dia asik bermain, nonton tv, atau dalam keasikannya yang lain, saya selalu cerewet agar giginya digoyang-goyang. Seperti karyawan yang dikejar target, jadi ngga boleh nganggur. Pernah ngga moms seperti itu? Atau hanya saya yang diserang ketakutan? Apalagi ketika gigi permanennya sudah semakin terlihat jelas, sementara gigi susunya belum juga tanggal, saya semakin berambisi untuk terus menggoyangnya.

“Pelan-pelan, bu. Hati-hati. Itukan gigi atas. Sudah jangan terlalu dipaksa kalau masih susah.” begitu kata suami ketika mendapati saya penuh ambisi dalam misi mencabut gigi susu Naura.

Bagaimana tidak penuh ambisi, ini seperti target yang tak kunjung tercapai. Jadi, harus giat. Hihihi…

Astaghfirulloh. Tapi, nyatanya jika memang belum waktunya tanggal ya tidak akan tanggal. Semuanya harus dilakukan secara pelan-pelan. Sampai pada akhirnya gigi itu tanggal dengan berbagai macam bantuan yang lain juga. Seperti, ketika makan makanan yang lumayan keras. Naura, sih waktu itu senang makan krupuk asinan. Menurut saya lumayan harus mengunakan tenaga ketika menggigit.

Bagaimana, ya perasaan Dokter gigi yang sesungguhnya itu ketika menghadapi pasiennya? Benar-benar harus sabar dan telaten. Ngga boleh ngoyo ngga karuan seperti saya yang amatiran karena darurat jadi Dokter gigi rumahan.

Bagaimana dengan pengalaman moms lainnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *