Jangan bangga jadi ‘miskin’

Pernah ngga saat liburan tiba-tiba ditodong “oleh-oleh, ya?”. Enteng banget ya kalau chat. Se-enteng angin mengibaskan rambut sepertinya. Hihihi…

Atau, karena baru mendapatkan gaji, ulang tahun, kenaikan pangkat atau hari istimewa lainnya, tiba-tiba ditodong “traktir dooonggg…!” kalau yang nodong satu orang mungkin ngelesnya masih lihai lah, ya. Tapi, kalau yang nodong berpasang-pasang mata mah sama saja dikroyok.

Nah, bagi saya hal itu sama saja seperti orang yang bermental ‘miskin’. Kenapa? Karena habitnya minta-minta. Bahkan, orang yang masuk dalam golongan miskin sesungguhnya bisa jadi malu untuk meminta-minta.

Terpikir ngga sebelum mengucapkan atau menulis “traktir dong” dan “oleh-oleh ya” bagaimana kondisi orang yang ditodong itu? Bisa jadi kan yang ditodong itu sedang dalam kondisi kesulitan ekonomi atau uangnya pas-pasan? Dia pergi jalan-jalan mungkin karena uang dari kantor atau sedang dalam kondisi tugas. Dia yang naik jabatan, mendapatkan gaji pertama, berulang tahun atau hal lainnya bisa jadi sedang intens menabung jadi ngga mau berfoya-foya.

Saya pun mengoreksi diri. Tentu pernah melakukan hal itu. Dan berada di posisi yang ditodong pun pernah. Rasanya sunggu susah mengelak. Hihihi… Tapi, beda halnya jika orang yang bersangkutan menawarkan diri ya. “Ayo teman-teman kita makan bersama. Saya yang traktir”. Itu namanya rejeki nomplok. Hehehe….

Mari kita sama-sama mengoreksi diri. Jangan sampai bermental ‘miskin’. Dan mendzolimi saudara sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *