Setiap orangtua tentu senang jika melihat anaknya gemar membaca. Duduk manis di sudut ruangan tenggelam dalam imajinasi bukunya. Lalu, apa yang terjadi jika keinginan orangtua tidak sejalan dengan kenyataan? Maksudnya, orangtua memiliki harapan hanya saja tidak didukung dengan sarana.
Disini tidak berbicara mengenai barang jualan saya ya (hihihi promosi colongan). Jadi, coba diperiksa apakah di rumah sudah ada buku untuk buah hati? Tak peduli itu buku mahal atau murah, tipis atau tebal. Yang penting buku untuk anak. Nah, kalau ternyata belum ada, bagaimana mungkin buah hati akan memulainya. Jangankan diberi contoh gemar membaca, sarananya saja tidak ada.
Nah, kalau Naura sejak dalam kandungan sudah saya bacakan buku. Buku pertamanya adalah tentang kisah 25 para nabi. Ngga selalu lama dan setiap hari, sih membacanya. Bahkan dalam 1 bab bisa selesai dalam 2 hari. Maklum saja, karena ibu hamil gampang ngos-ngosan, dan lebih sibuk membetulkan posisi duduk atau berbaringnya 😁.
Begitu Naura lahir, saya pun mulai mengoleksi beberapa judul buku anak lainnya. Kalau moms selalu beranggapan bahwa anak-anak belum waktunya diberikan buku karena masih suka merobek, lalu kapan akan memulai? Anak-anak memang senang dengan hal baru. Dan instingnya bekerjasama dengan tangan untuk bereksplorasi. Jika tidak ingin disobek, moms harus mendampinginya. Bahkan, di usia Rania (adik) yang hampir 4 tahun pun tetap saya dampingi ketika membaca buku baru. Terlebih jika tiap halaman bukunya mudah disobek.
Ayo moms kita berikan kebiasaan baik untuk anak-anak. Membaca adalah salah satunya. Dengan membaca akan semakin menambah rasa percaya dirinya, bertambah wawasannya. Hmmm, coba cek buku anak apa yang pertama hadir di rumah?
#Day18