Hari ini adalah hari ke 14 saya mengikuti challenge 30 hari bercerita. Beberapa hari ini pun saya sering mepet “setoran” cerita. Bukan soal pekerjaan rumah saja yang membuat challenge itu tak kunjung selesai dikerjakan. Jadi, kalau kata suami, saya ribet. Ribet mikirin mau cerita apa. Ribet mikirin alurnya. Ribet merangkai kata-katanya. Ribet ingin terlihat sempurna. Yang pada akhirnya lama selesainya.
Suami sih sebenarnya sudah biasa menghadapi saya yang selalu ribet. Entah orang lain. Mungkin mendadak illfeel. Hihihihi…
Contoh kasus: Kalau nyapu ngga bersih, saya bisa mondar-mandir nyapu sampai bisa dinyatakan bersih (saya sendiri juga sih yang menyatakan bersih 😂). Ngepel pun bisa hampir 30 menit lebih. Padahal rumah di bawah ukuran 45. Pernah waktu masih menggunakan jasa ART dan ternyata hasil pekerjaannya kurang bersih. Akhirnya saya kerjakan lagi. Nah, berati apa bedanya ada ART dan tidak. Akhirnya saya stop 🙏.
Makan di luar, sendok bisa dilap sampai berkali-kali sebelum akhirnya digunakan. Piring pun demikian. Cuci tangan bisa berkali-kali. Padahal mungkin kumannya udah mental jauh. Keluar rumah sebentar dan begitu masuk rumah langsung cuci kaki. Dan anak-anak pun saya beri aturan demikian. Sebelum mencuci kaki dan tangan, tidak ada yang bisa menyentuh tempat tidur (maafkan ibu, nak).
Ribet banget, ya? Tapi, keribetan itu jika saya lupakan justru membuat saya merasa ada yang kurang. Entah itu sebuah penyakit atau sekedar kebiasaan untuk bisa dinyatakan sempurna bagi diri sendiri.
Ribet memang harus tahu tempat dan waktunya. Jika semuanya dibikin ribet, akibatnya pekerjaan selesainya mepet. Ya, seperti tulisan ini yang diposting mepet-mepet.
#Day14