Surat di bawah bantal


Sesabar-sabarnya manusia, pasti akan bertemu dengan titik amarahnya. Entah kepada pasangan, anak, tetangga, teman kerja atau binatang sekalipun. Dan, setiap orang pasti berbeda dalam mengolah amarahnya. Ada yang memilih diam menyendiri, pergi menjauh untuk beberapa waktu, frontal membongkar aib sendiri di media sosial, dan bahkan terang-terangan adu argumen di depan umum.


Marah itu wajar, kok. Tapi, alangkah baiknya dapat dikendalikan dengan baik.


Saya pun pernah marah pada suami dan anak-anak. Hanya saya terus berusaha belajar mengendalikan diri agar jangan sampai terlontar kata-kasar dan terlebih sumpah serapah. Karena, kata yang tidak baik dan keluar di waktu mustajab sangat berbahaya.


Saya juga pernah berdebat dan ujung-ujungnya saya menangis jika sudah tidak tahan. Tapi, suami justru lebih sering membiarkan saya dalam diam untuk berfikir. Dan ternyata bagi saya cukup menjernihkan pikiran. Meskipun ada rasa kesal juga. Jika sudah stabil, barulah saya diajaknya bicara baik-baik.


Ibu pernah bercerita saat tahun muda pernikahannya. Ketika ibu sedang marah kepada bapak, ibu memilih menulis surat dan diletakkan di bawah bantal bapak yang sengaja tidur di kamar sebelah. Surat balasannya pun diletakkan di bawah bantal ibu. Dengan begitu, anak-anaknya dan orang lain tidak ada yang tahu bahwa mereka sedang saling marah.


Keduanya pun marah tidak berlangsung lama. Selain takut dosa, juga karena alasan anak-anaknya yang membuat mereka cepat berdamai. Alhamdulillah ya saya sudah memiliki basic keluarga yang mengenal dosa. Hihihi

Pun demikian dengan saya dan suami. Anak-anak yang membuat kami tidak tahan marah berlama-lama. Bukan hanya takut dosa, tapi juga karena tidak baik untuk kesehatan.
😎😎

#day1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *