Entah sudah berapa artikel yang ku baca mengenai metode menyapih. Sudah ku capture agar nanti jika tiba saatnya menyapih tinggal dipraktekkan. Pun beberapa pertanyaan sudah pernah ku tanyakan pada teman yang lebih berpengalaman. Ada yang menggunakan jasa ‘orang pintar’. Menurut cerita yang ku dengar, jadi si anak dipijit (entah bagian tubuh yang mana), setelah itu diberikan telur matang yang dibawanya dari rumah dan sudah dijompa-jampi oleh ‘orang pintar’ itu. Selain telur, ada air putih dan beberapa jajanan ringan yang sepertinya sudah dijompa-jampi juga. Niscaya si anak akan berhasil disapih. Tapi, karena si ibu tidak tega melihat anaknya yang menangis terus karena minta susu, akhirnya prosesi menyapih pun gagal total.
Lebih menakjubkan lagi ada yang tanpa drama kebohongan. Jadi, setiap kali minta susu, sang ayah meledeknya dengan mengatakan “ih anak bayi”. Dan lucunya, anak itu sudah punya rasa malu. Akhirnya lama-lama menjadi lupa dengan ASInya dan beralih ke susu kemasan.
Berbicara mengenai drama kebohongan, awalnya aku pernah mencoba dengan memoles sekitar areola menggunakan saos. Berhasil? Iya pada saat itu. Si bungsu menangis dan tidak mau minum asi. Tapi, hati kecil ini berkata, “apakah aku akan memberikan kenangan buruk mengenai asi?” Karena tidak tega akhirnya ku bersihkan lagi. Dan si bungsu kembali dengan asi nya. Waktu terus berjalan. Usia si bungsu semakin jauh meninggalkan angka 2 tahun. Dan artikel-artikel yang sudah ku simpan rapi tadi seperti sia-sia. Entah aku yang tidak sabar dalam berproses atau memang harus menggunakan tips lain. Kalau anda, kebohongan atau drama apa yang pernah anda lakukan ketika menyapih?
Sebenarnya di sisi lain aku ‘menikmati’ kedekatan tersendiri kala si bungsu meminum asi. Ketika kami bisa tidur bersama (sebenarnya aku yang lebih sering tertidur duluan hihihi), merefleksi diri si anak sambil mengusap-usap punggungnya, membelai rambutnya, dan ketika dia iseng menggigit puting. Meski juga harus merasakan drama tangan pegal karena terlalu lama tidur miring, tidak bisa memakai baju tanpa kancing atau resleting depan ketika bepergian, dan hal-hal sepele yang tidak bisa memisahkan kami.
Aku tidak punya basic menyapih. Karena sewaktu anak pertama, dia hanya sampai hitungan bulan menikmati asi nya. Itu pun lebih banyak menggunakan botol.
Dan, aku kembali diingatkan bahwa harus memadukan kata ‘mulai’ dan ‘tekad’ menjadi kombinasi yang pas untuk kembali menyapih. Sampai pada akhirnya, tibalah waktunya semua itu harus direalisasikan. 2 tahun 11 bulan, ketika menjelang malam aksi itu pun dilakukan. Rengekannya mulai terdengar. Lalu, ku olesi lagi areola ku menggunakan kecap. Ya, kali ini kecap. Kecap memang tidak seterang saos. Tapi, setidaknya ada cairan kental hitam kecoklatan yang sangat mengganggu dan pasti sempurna menakutinya.
Berhasil? Iya, tentu saja. Tapi, si bungsu menangis sejadi-jadinya. Diberi air putih pun baginya tidak memuaskan. Digendong secara bergantian oleh ku dan suami pun hanya nikmat sesaat. Si bungsu kembali mencari asinya. Diberikan pilihan apa yang diinginkan, ternyata dia memilih makan jeruk. Dan, berharap besar perut kenyang tidak akan rewel. Ternyata salah besar. Menangis sejadi-jadinya pun terjadi lagi. Sampai akhirnya lelah dan tidur dengan bantuan punggungnya diusap-usap. Sudah berakhir? Belum. Tengah malah dia terbangun. Seperti malam-malam sebelumnya selalu terbangun meminta asi. Karena mataku berat dan esoknya harus bangun pagi, akhirnya aku menyerah dan ku berikan asi lagi. Terselip rasa menyesal karena usaha ku tadi sampai membuatnya menangis menjadi sia-sia. Akhirnya dispensasi hanya berlangsung sebentar. Asi ku berhentikan lagi. Si bungsu masih terus mencari. Sudah biar saja. Tekad ku harus penuh.
Singkat cerita, esok siangnya dia merindu asi lagi. Ajang tidur siang yang biasanya aman dan tentram berubah menjadi sinetron. Si bungsu menangis tak kunjung henti. Meratap seolah disiksa oleh ibunya. Entah apa yang ada di pikiran tetangga saat mendengar tangisannya yang histeris. Sampai pada akhirnya dia lelah sendiri dan tidur sambil ku usap-usap punggungnya.
Jauh di lubuh hati seorang ibu, ada yang aku sesali dengan semua ini. Mungkin, jika aku melakukannya tidak dalam kondisi mepet, pasti proses itu bisa aku nikmati. Aku terlalu terbuai oleh waktu dan kata nanti. Dan, terjadilah menyapih tidak dengan cara tidak jujur. Maafkan ibu, nak. Ibu sudah berbohong.
Ibu berbohong demi usia mu yang semakin besar. Kamu harus bertumbuh dan semakin mandiri melawati waktu. Tapi, percayalah, ibu tetap bersedia mengusap punggung mu hingga kelak engkau dewasa nanti jika itu bisa menebus kesalahan ibu. Cinta ibu tetap ada untuk mu.
Menjadi ibu, selain memiliki kasih sayang dan cinta, juga harus memiliki rasa tega. Ini adalah perjuangan kesekian ku yang ternyata besar setelah mengandung, melahirkan, dan menyusui. Dan kamu yang sedang menyusui, siapkan hati mu untuk nanti memulai menyapih dengan kejujuran.