Ketika kamu dapat mencurahkan kasih sayang kepada sesama makhluk hidup penuh ketulusan, maka selayaknya juga bersedia menyediakan separuh ruang di hati untuk bumi yang kamu tinggali.
Bumi tak lagi muda. Begitu banyak hal yang telah diperlihatkan sebagai bentuk perlawanan atas perbuatan manusia yang acap kali menyakiti. Sadar atau tidak sadar, kebiasaan buruk manusia juga yang telah membuat usia tua bumi merana.
Lakukan dari hal kecil di sekitarmu. Tak usah menerapkan hal-hal besar mengejutkan yang justru akan membuat niatmu cepat menguap.
Di beranda media sosial saya sudah sejak lama berseliweran postingan Mbak Britania Sari dan Mbak Ami perihal memperlakukan sampah organik rumah tangga. Seperti: kulit bawang merah putih, kulit buah, daun pisang, sayuran yang sudah busuk karena kelupaan, sisa masakan, dan banyak lainnya. Apa yang saya baca di beranda orang-orang penuh inspiratif itu tidak langsung saya praktekkan, tapi sekadar tersimpan dalam ingatan. Entah kenapa saya masih enggan mempraktekkan. Padahal, mudah dan terlalu mudah. Apalagi kalau punya lahan kosong meski cuma seuprit (kecilllll banget).
Sampai akhirnya saya kecantol dengan kata ‘pertanggung jawaban’. Segala hal yang manusia lakukan di bumi ini akan dimintai pertanggung jawaban kelak. Termasuk urusan buang sampah yang asal buang. Oke, saya pun mulai meraba. Menata niat dan mengatur polanya.
Tempat sampah di depan rumah hanya ada satu. Dengan kata lain, baik sampah organik dan nonorganik mau tidak mau dijadikan satu. Saya kembali membuka memori mengenai ilmu yang pernah dibagi oleh dua orang inspiratif di atas.
Singkat cerita, sampah-sampah organik yang mudah terurai dan tidak memerlukan waktu hingga ratusan tahun, saya jadikan kompos. Mudah saja caranya. Sediakan wadah sendiri untuk sampah organik di dapur. Jika sudah penuh, jemur sebentar di luar. Atau kalau saya lagi rajin bisa juga langsung dikubur di lahan depan rumah. Pas banget saya punya pohon mangga dan tanaman mini-mini lainnya yang tentu tanahnya butuh nutrisi dan kelak insyaallah akan berdampak bagus pada tanaman. Cukup gali dan kubur.
Hal itu pun sudah saya lakukan kurang lebih sebulan lebih. Hitung-hitung mengurangi sampah di pembuangan akhir. Jadi, jangan heran lagi, ya, kalau lihat ada wadah berisi tumpukan sampah kulit di teras rumah. Heheheā¦
Kalau ada ratusan orang melakukan hal yang sama, coba bayangkan akan berkurang berapa banyak sampah di Bantar Gebang sana? Memang terlihat remeh, tapi dampaknya tentu enggak remeh. Apalagi kalau kebiasaan ini bisa menular ke anak cucu.
Saya masih terus berusaha menguatkan hati agar konsisten. Sayang kan kalau sampai berhenti. Menurut saya, bagi siapa pun enggak ada salahnya kok memulai dari hal yang kecil-kecil dulu sebagai wujud menyayangi bumi. Seperti selalu membawa kantong belanjaan sendiri tiap kali membeli sayur.
Kalau kamu bingung karena misal enggak punya lahan kosong, bisa nih cari-cari info mengenai cara pengolahan sampah organik di google misalnya, atau buka akun media sosial mbak Britania Sari (fb) dan iniami (ig). Insyaallah ada banyak ilmu di sana.
Selamat mencoba, ya. Ingat, tidak ada kata terlambat dan tidak ada yang sia-sia.