Saya mengagumi tulisan tangan, tanda tangan, dan berbagai coretan tangan milik siapapun yang apik. Bahkan, saya pun pernah berusaha meniru gaya tulisan teman sebangku saat SD. Justru saya malah cepek sendiri. Akhirnya kembali ke gaya menulis saya sendiri. Yaitu yang semula tegak dan lama-lama jadi miring. Hiihihi…, enggak kok saya nulisnya juga ngga sambil miring.
Mengetahui bahwa manusia harus bisa tanda tangan adalah ketika saya duduk di bangku SD. Kala itu saya harus rutin menemui penceramah usai shalat tarawih. Jadi, saya harus meminta tanda tangan beliau sebagai bukti bahwa saya telah melaksanakan shalat tarawih sekaligus mendengarkan ceramah (entah saat itu SD kelas berapa). Bukan hanya itu, inti ceramahnya pun harus dicatat. Tugas yang menyebalkan menurut saya saat itu. Dannn, di sebelah tanda tangan penceramah ternyata juga ada tempat untuk tanda tangan siswanya. Karena saya belum pernah tanda tangan, jadi saya banyak mencoba di kertas lain. Berkali-kali terus belajar melenturkan jari-jari tangan.
Menurut saya, membuat tanda tangan seperti membuat karya lukis. Jujur saja saya minus ide. Melirik tanda tangan bapak dan ibu sebenarnya bagus. Terbesit untuk menconteknya bahkan. Tapi, apa boleh? Sampai akhirnya tertarik pada tanda tangan hasil karya saya sendiri. Menurut saya bagus kala itu. Selang beberapa waktu, ketika melihat tanda tangan teman, ternyata dia lebih bagus. Seperti menyalahkan diri sendiri. Kenapa ngga punya ide seperti itu? Dan, saya pun merubahnya. Jadi, tanda tangan saya beraneka macam kala itu. Hihihi…
Begitu lulus SD, ternyata saya memang harus menandatangai beberapa lembar berkas yang menyatakan bahwa saya lulus. Berbekal pengalaman menandatangani buku tarawih, saya pun sudah tidak asing dengan liak-liuk gerakan jari. Tanda tangan saya masih malu-malu kucing. Serba kecil. Hmmm, kalau menurut ibu tanda tangannya urek-urekan.
Begitu sudah menandatangani 1 berkas penting, itu artinya saya ngga boleh gonta-ganti tanda tangan 😧. Begitu kata teman saya. Seperti menyesal karena tidak membuat tanda tangan sebagus mungkin. Bagaimana ini? Saya menganggap tanda tangan saya masih kurang oke. Sungguh penyesalan saat itu hadir begitu saja. Berharap semoga nanti ketika saya besar bisa merubahnya. Tapi, tanda tangan seperti apa yang bagus? Dan, sampai saat ini pun saya tak menemukannya dari diri saya. Itu artinya tanda tangan itu lah yang bagus untuk saya. Mau tidak mau terus saya gunakan di berkas kelulusan SMP, SMA, perguruan tinggi, kontrak kerja, pernikahan, dan berkas lainnya.
Masih menyesal? Hehehe… Tidak! Saya tidak boleh menyesal. Karena tanda tangan itu juga-lah yang telah menemani saya. Sampai kapan pun membuat yang paling bagus saya yakin tidak akan pernah ada puasnya.
Itulah sekelumit keruwetan ketika dulu saya belajar membuat tanda tangan. Apakah ada yang memiliki cerita sama seperti saya??
✍️