Memiliki anak kecil di rumah artinya memiliki barang yang wajib dibeli selain pakaiannya, dan cemilannya. Apalagi jika bukan perkakas mainan. Entah jumlahnya sedikit ataupun banyak, tentu barang tersebut pasti tersusun di sudut rumah dan mudah dijangkau oleh si anak. Hanya saja, jika hal sepele “ah cuma sedikit kok” dibiarkan berlarut-larut dan kita terus membelikan mainan meski dalam jumlah sedikit namun sering, maka tanpa disadari tumpukan itu akan menggunung dan mengganggu pemandangan mata. Akibatnya, kita akan semakin susah mensortir mainannya. Dan kebanyakan ibu terlalu besar rasa sayangnya dan enggan membuangnya atau memberikan pada oranglain. Hihihi…
Sebagai ibu, selalu adaaa saja bahan pertimbangan mengapa bertahan dengan kalimat “simpen aja deh”. Biasanya ini alasannya: “ini kan masih bagus”, “ini kan limited edition”, “ini kan kenang-kenangan”, dan ini kan ini kan lainnya.
Saya pun demikian moms. Dulu, di rumah ada mainan Naurania (naura dan rania) yang tanpa disadari terkumpul semakin banyak. Mulai dari mainan kecil sampai yang bentuknya besar. Kebanyakan adalah hadiah dari pembelian ayam krispi. Bahkan pernah sampai dapat semua serinya. Ada mainan pemberian dari om dan tantenya. Tapi, yang lebih banyak tentu pemberian dari ayahnya yang berhasil dibujuk rayu. Dari sekian banyak mainan yang ada, hanya beberapa jenis saja yang saya sediakan di meja bermainnya. Selebihnya saya simpan di kamar dan di gudang. Dan, untuk menghindari kejenuhan, mainan itu saya rolling beberapa minggu sekali. Antusiasnya memuncak meskipun itu adalah mainan lama. Hanya karena jarang bertemu jadi seolah-olah seperti rasa mainan baru. Lama-lama kok rasanya kamar jadi tambah sempit ya seiring semakin bertumbuhnya mereka. Jangan sampai ruang kosong dikuasai oleh mainan. Lama-lama bisa jadi rumah mainan.
Singkat cerita, suami berencana mengganti tempat tidur kamar belakang. Artinya, pasti akan ada pergeseran barang. Jadi, lebih baik sekalian berbenah. Mulailah saya kumpulkan mainan anak-anak. Pada saat mensortirnya, rasanya hati beraaaaat melepas mainan-mainan itu. Padahal, ya anak-anak akan lupa dengan sendirinya. Dan jika dia bertanya, selama kita bisa memberikan penjelasan kuat, insyaAllah bisa menerima. Mungkin akan lain ceritanya jika saya menyortir mainan di depan anak-anak dan memberikan pada orang lain di depan mereka juga. Sudah pasti Naurania akan marah dan menangis. Namanya juga barang kesayangan kan…
Dari pada saya menimbun mainan dan berujung dosa ikut tertimbun juga, lebih baik tutup mata saja lah. Memberi tidak akan kehilangan sepenuhnya. Di luar sana bahkan ada anak seusia Naurania yang lebih sering bermain debu dibandingkan mainan layak itu.
Jadi, lebih baik jika memiliki lebih ya dibagi-bagi saja. InsyaAllah akan ada gantinya.
Bagaimana dengan moms yang lain??