Entah sudah berapa purnama saya tidak pulang kampung ketika moment lebaran. Disaat kebanyakan anak berkumpul dengan orangtuanya, saya justru berbeda. Entah bagaimana perasaan ibu dan bapak. Tentu ingin seperti tetangganya yang berkumpul lengkap dengan anak-anaknya. Nyatanya, hanya bertiga bersama adik saya.
Air mata sekuat tenaga ditahan agar tak tumpah ketika mengatakan hal ini pada bapak. “Pak. Ana ngga pulang lebaran tahun ini, ya?”
“Iya. Ngga apa-apa. Uangnya ditabung dulu.”
Duh, rasanya pengen meluk bapak seerat-eratnya.
“Kan ada telphone. Jadi bisa komunikasi dari itu.” Tambah bapak.
Beruntung obrolan itu tersendat karena ada gangguan sinyal. Tak terasa air mata pun tumpah. Rupanya sinyal semakin bersahabat. Jadi, obrolan pun saya putus. Tangisan itu pun pecah.
Inilah salah satu cobaan terberat menjadi anak rantau. Dikala rindu sulit untuk bertemu.
Sebagai istri, kemanapun suami pergi, istri harus ikut pergi. Dan beberapa kali kesempatannya adalah berlebaran di rumah mertua. Apalagi jika bukan karena urusan biaya. Ya, biaya pesawat kala lebaran sangat melonjak. Apalagi jarak antara Jakarta dan Sulawesi Tenggara harus melewati beberapa pulau. Dan, beberapa kali kami pulang selalu setelah lebaran. Begitupun dengan tahun ini.
Maka banyak-banyak bersyukurlah ketika sebagai anak yang sudah berumah tangga tinggal tak jauh dari orangtua. Kapan saja bisa pulang. Manfaatkan lah kesempatan sebaik-baiknya.
Maaf, ya pak, bu. ❤