Tega (s)

Sebagai orangtua harus tega membiarkan anaknya lapar di bulan puasa. Memang berat dan terasa keriiiiing tenggorokan. Saya saja yang sudah berumur 30 tetap merasa tergoda dengan bayangan makanan dan minuman. Ditambah perut keroncongan. Apalagi anak-anak seumuran Naura. Tentu saja semakin tergoda.

Inilah proses pelajaran hidup yang selama dia masih hidup akan tetap dia jalani. Sampai kapapun puasa ramadan akan menjadi tanggung jawabnya. Jadi, biarkan saja dia merasakan lapar, haus, dan lelah. Pun tidak ada iming-iming hadiah. Karena hadiahnya yang menanti disana. Bukan di dunia.

Hari ini proses serius Naura belajar puasa ramadan yang pertama. Karena dia tidak bangun ketika sahur (red: susah dibangunin 😢), jadi makan sahurnya diganti mulai pukul 6-7 pagi. Kemudian, puasa sampai bedug duhur. Dan lanjut lagi sampai bedug maghrib. Rewel? Banget. Begitu banyak alasan yang dikeluarkan. Mulai dari haus, lemas, dan tragisnya pintar sekali memainkan mimik kelelahan. Sebenarnya salahnya sendiri juga. Jadi, selesai makan dia main sepeda dan lari-larian bersama teman-temannya. Saya sudah memberitahunya bahwa jangan terlalu lelah, karena dia berpuasa. Dia pun saya ingatkan bahwa tidak ada minum setelah main. Hihihi… Disinilah naluri saya sebagai ibu diuji. Jujur saya kasihan. Tapi, diusianya yang hampir 6 tahun rasanya bukan waktunya lagi terus dikasihani jika ingin diajarkan ibadah yang jauh lebih lagi. Ya, Naura harus bisa naik level.

Bismillah, ya nak 😘

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *