#10YearChallenge

Hihihi sok-sok an ikut #10yearchallenge. Tapi, ini bukan pamer perbandingan selfi saya 10 tahun yang lalu dan tahun 2019 ini ya. Malu jika diperlihatkan. Saya lebih tertarik untuk bercerita 10 tahun yang lalu mengenai kegiatan saya.

***

Jika 10 tahun ditarik ke belakang, itu artinya sekitar tahun 2009. Ditahun itu saya baru lulus kuliah. Kampus tempat saya menimba ilmu bukanlah tempat mewah yang terkenal di seantero Indonesia. Bahkan letaknya di ruko. Tapi, bukan menjadi kendala bagi saya untuk cepat lulus. Saya mencari jalan untuk kelulusan saya. Saya tidak ingin menjadi seperti kebanyakan orang yang saat itu belum terpikir untuk lulus. Pendapat saya, biar pun pada akhirnya saya diwisuda bersama mereka yang terlambat lulus, tapi setidaknya saya bekerja lebih dulu dari modal surat keterangan lulus saya. Ya, saya ingin cepat bekerja. Karena dengan bekerja, saya bisa meringankan finansial keluarga. Simple ya. Meskipun orangtua selalu berkata “simpan saja uang mu untuk kebetuhun mu”, tapi dengan hadir di tengah-tengah perjuangannya mencukupi kebutuhan keluarga, berapapun jumlahnya yang diberikan, orangtua senangnya pasti luar biasa.

Begitu lulus, ternyata perjuangan saya bertambah besar. Saya harus bersaing dengan ribuan bahkan jutaan pelamar kerja lainnya. Lalu, apakah saya akan mendapatkan pekerjaan dengan cepat? Ditambah latar belakang kampus saya yang tidak terkenal. Tapi, saya percaya bahwa doa orang tua itu baik adanya, dan selalu didengar yang Kuasa. Tentu saya pun sudah digariskan memiliki rejeki sendiri jauh sebelum saya dilahirkan.

Menjadi pengacara (Pengangguran banyak acara 😁) memang banyak resikonya. Resiko keseringan ditanya “udah dapet kerja belom?”. Awal-awal ditanya masih bisa senyum sumringah. Tapi, saking seringnya bisa muncul tanduk di balik kerudung 😂. Eh iya, kenapa saya sebut pengacara? Karena, meskipun saya masih jadi pengangguran, tapi saya selalu sering keluar rumah. Ngapain? Ke warnet. Browsing sana-sini mencari lowongan kerja (pada saat itu warnet masih merajai) dan kirim lamaran kerja. Eh, sebenarnya sekalian buka FB juga, sih. Hihihi…

Panggilan kerja berkali-kali menghampiri. Mulai dari perusahaan yang wah sampai yang alakadarnya. Hal itu juga yang membuat saya sering berkunjung ke Jakarta. Menikmati kemacetan sampai bosan, berkhayal kerja di gedung yang tinggi-tinggi itu, dan selalu berdoa bertemu jodoh pekerjaan yang sesuai. Soal gaji saat itu tak jadi soal. Yang penting saya bekerja di tempat yang sesuai. Maklumlah, di kota Jakarta pun ternyata banyak sekali perusahaan yang pandai menghaluskan kata-kata pada saat membuat lowongan pekerjaan. Bilangnya advertiser, padahal maksudnya adalah sales door to door yang menawarkan jasa (entah saya lupa detailnya). Hanya saja kelilingnya bukan dari rumah ke rumah tapi dari kantor ke kantor yang ada di gedung-gedung. Ekspektasi saya adalah advertiser yang real layaknya bekerja di perusahaan periklanan. Jadi, tentu tidak jauh berbeda dengan jurusan kuliah saya, public relation. Sedikit banyak basic ilmunya pun pernah saya pelajari saat masih semester 1-2. Kisah lain yang lebih membuat saya terkekeh, adalah saat saya dites untuk posisi campers (camera person) di Station TV. Kebayang bawa-bawa kamera yang entah beratnya berapa kilo, dan sementara berat badan saya kala itu sekitar 40kg. Njomplang! Sebenarnya sih saya tidak menspesifikasikan divisinya ketika melamar. Beruntung jika ternyata berkesempatan bergabung dalam divisi humasnya. Ya karena lowongan itu yang ada ya sudahlah. Tapi, begitu HRD melihat saya, saya sih sudah tahu hasil tesnya.

Capek? Sudah tidak terasa. Bahkan kalau lama tidak mengirim lamaran rasanya rindu. Cieeeeh…

6 bulan pun berlalu, dan alhamdulillah saya mendapatkan panggilan kerja di salah satu Station TV Nasional di Jakarta. Bermodal pengalaman saya sebelumnya yang pernah PKL (praktek kerja lapangan) dan magang (ternyata PKL dan magang itu memang berbeda) di tempat tersebut ketika masih kuliah. Seperti pulang ke rumah yang sudah lama ditinggalkan. Akhirnya kembali lagi. Berputar-putar kesana-kemari mengikuti arah angin (apa siihhhh? 😁), eh ternyata berlabuhnya ke tempat yang lama.

Kurang lebih demikian 10 tahun yang lalu aktifitas saya. Nyari kerjaan! Hidup di kota besar ternyata ngga cuma modal ijazah saja. Tapi juga modal pantang menyerah! Dan, yakinlah bahwa disetiap usaha pasti akan ada hasilnya.

💪💪

#Day17

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *